Meski fluktuatif, potensi penguatan IHSG dalam sepekan ke depan diprediksi lebih besar dibandingkan potensi pelemahannya. Arus capital inflow masih jadi salah satu katalisnya.
NS Aji Martono, Direktur PT Capital Bridge Indonesia mengatakan, derasnya arus capital inflow yang menjadi salah satu katalis penguatan IHSG dipicu Indonesia yang masuk dalam pusaran baru ekonomi dunia dengan sebutan MIST (Meksiko, Indonesia, Korea Selatan dan Turki). Menurut dia, MIST dianggap telah mampu menggeser ekonomi di negara- negara yang tergabung dalam kelompok BRIC. “Karena itu, Indonesia menjadi salah satu sasaran derasnya arus capital inflow,” katanya kepada INILAH.COM.
Pada perdagangan Jumat (15/3/2013) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG
) ditutup menguat 32,96 poin (0,69%) ke angka 4.819,324 dengan intraday terendah 4.803,58 dan tertinggi 4.854,529. Volume perdagangan turun dan nilai total transaksi naik. Investor asing mencatatkan net sell dengan kenaikan nilai transaksi beli dan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan net buy. Berikut ini wawancara lengkapnya:
Akhir pekan lalu, IHSG berhasil mendarat di teritori positif. Apa yang terjadi?
Dalam sepekan terakhir, IHSG fluktuatif luar biasa sehingga IHSG sempat terpuruk ke bawah level psikologis 4.800. Tapi, setelah bursa saham global dan regional mengalami penguatan, lantai bursa Jakarta juga menguat Jumat (15/3/2013) ini. Saya melihat, aksi profit taking yang dilakukan dalam beberapa hari terakhir, sebenarnya masih tergolong sehat.
IHSG kembali merangksek naik ke atas 4.854 Jumat (15/3/2013). Saham-saham bluechips yang beberapa hari terkahir dilanda aksi ambil untung, tapi karena masih dalam posisi yang cukup sehat, selective buying pada saham-saham tersebut sangat menarik. Secara teknikal, saham-saham bluechips sudah memperlihatkan sinyal buying. Antara lain, PT Telekomunikasi Indonesia (TLKM), PT Astra International (ASII), PT Gudang Garam (GGRM), dan PT Unilever Indonesia (UNVR) yang menguat seiring penguatan IHSG dan bursa global dan regional.
Kalau begitu, bagaimana Anda melihat arah IHSG dalam sepekan ke depan?
Arah IHSG masih dalam koridor bullish. Dalam sepekan ke depan, saya perkirakan, potensi penguatan IHSG lebih besar dibandingkan potensi pelemahannya. Dengan kondisi saat ini, IHSG memiliki support 4.714 dan resistance 4.875. Tapi, masih memungkinkan, IHSG menguat dan menembus level psikologis 4.900 dalam sepekan ke depan. Resistance 4.875 bisa menjadi benchmark untuk penguatan indeks lebih lanjut jika ditembus ke atas.
Apakah capital inflow masih jadi pendorong penguatan indeks?
Ya. Penguatan indeks masih dipicu oleh derasnya aliran dana asing.
Tapi, apakah yang menyebabkan derasnya capital inflow?
Ekonom Jim O'Neill setelah mengeluarkan kategori BRIC (Brazil, Rusia, India, dan China), dia memasukkan Indonesia menjadi tempat tujuan investasi yang baik. Kalau dulu BRIC, sekarang dirilis lagi, MIST (Meksiko, Indonesia, Korea Selatan dan Turki).
Indonesia masuk dalam pusaran baru ekonomi dunia MIST yang dianggap telah mampu menggeser ekonomi di negara- negara yang tergabung dalam kelompok BRIC. Karena itu, Indonesia menjadi salah satu sasaran derasnya arus capital inflow.
Bagaimana dengan anggapan IHSG sudah jenuh beli?
Meski sebelumnya banyak analis yang mengatakan bahwa IHSG sudah jenuh beli (overbought), akhirnya memeng terjadi aksi profit taking. Tapi, saya lihat profit taking itu masih dalam koridor yang sehat. Karena itu, bargaining position pada berbagai saham kembali terjadi. Karena itu juga, IHSG punya energy yang cukup untuk melanjutkan penguatan dalam sepekan ke depan.
Anda melihat risiko dari arah IHSG sepekan ke depan?
Ya. Saya juga melihat potensi fluktuasi IHSG yang tajam. Hanya saja, selingan aksi ambil untung masih akan tergolong sehat. Fluktuasi indeks dengan kecenderungan penguatan dalam sepekan ke depan juga didukung oleh terus keluarnya laporan keuangan emiten pada pertengahan Maret ini. Ini juga dijadikan satu katalis bagi investor untuk terus menambah darah baru. Lalu, aksi korporasi dari berbagai emiten yang dijadikan ajang spekulasi terutama pada saham-saham second liner seperti PT Multipolar Corporation (MLPL) dan lain-lain.
Bagaimana dengan sentimen dari ketidakpastian kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM)?
Sentimen dari Bahan Bakar Minyak (BBM) yang over quota, menurut saya tidak signifikan pengaruhnya ke pasar. Meskipun, ada peluang pemerintah untuk menaikkan BBM secara bertahap. Ya memang seharusnya segera dipercepat kenaikannya. Sebab, secara industri sudah siap menerima kenaikan harga BBM.
Lihat saja, harga solar Rp4.500 per liter untuk masyarakat sedangkan harga solar untuk industri sudah mahal karena non-subsidi. Dengan adanya BBM bersubsidi, justru memicu kecurangan seperti pembelian BBM bersubsidi yang dilakukan oleh pabrik-pabrik yang seharusnya mengkonsumsi BBM non-subsidi. Jika BBM bersubsidi bisa naik bertahap, industri tidak terpengaruh.
Sekarang, industri itu tinggal bagaimana mencari alternatif energy untuk menggantikan BBM apabila industri merasa kesulitan berproduksi. Jika sekarang harga gas Rp3.600 sedangkan harga solar Rp4.500, selisihnya terlalu kecil. Akibatnya, industri juga enggan menkonversi BBM-nya ke gas. Jika harga solar mencapai Rp7.000, perbedaannya signifikans ecara prosentase sehingga mereka akan berpikir untuk beralih ke gas.
Tapi, subsidi BBM yang tidak dikeluarkan nantinya karena harganya dinaikkan, harus dibelanjakan pada sektor-sektor yang tepat seperti belanja infrastruktur yang lebih baik. Akibatnya, distribusi produk dari satu tempat ke tempat lain bisa lebih mudah dan lebih murah.
Saham-saham pilihan Anda?
Untuk saham-saham pilihan, saya melihat sektor properti masih cukup menarik seiring berkembangnya landbank di sektor ini. Investor asing juga senang mengoleksi saham di sektor ini. PT Bumi Serpong Damai (BSDE) cukup menarik karena berpeluang melanjutkan penguatan. Apalagi ada issue, BSDE mengambil beberapa lahan yang dikuasai PT Bakrieland Development (ELTY).
Lalu, PT Agung Podomoro Land (APLN) karena ekspansi emiten yang cukup setelah mendapat dana dari penerbitan obligasinya. PT Bukit Sentul (BKSL) juga menarik karena potensial naik signifikan. Begitu juga dengan PT Pakuwon Jati (PWON) untuk trading jangka pendek. Saya rekomendasikan buy untuk saham-saham tersebut.
Selain sektor properti?
Saham-saham di sektor konstruksi juga masih favorit dalam sepekan ke depan terutama yang BUMN seperti PT Adhi Karya (ADHI), PT Wijaya Karya (WIKA), PT Waskita Karya (WSKT). Saya rekomendasikan buy untuk tiga saham Karya tersebut. Sedangkan untuk PT Total Bangun Persada (TOTL) dan PT Pembangunan Perumahan (PTPP) saya rekomendasikan Buy on Weakness.
Seiring berjalannya pembangunan infrastruktur di Indonesia, saham-saham di sektor semen juga menarik. PT Holcim Indonesia (SMCB), PT Semen Indonesia (SMGR) dan PT Indocement Tunggal Prakarsa (INTP) bisa menjadi salah alternatif, bargaining, pindah dari saham-saham yang sudah jenuh beli dan memberikan keuntungan cukup besar. Saya rekomendasikan buy untuk saham-saham sektor semen dengan horison jangka menengah dan jangka panjang.
Posted in: