Inilah Strategi untuk Saham-saham CPO


Headline

Secara fundamental, saham-saham CPO masih tak berkutik seiring penurunan harga CPO. Kondisi teknikal pun kurang mendukung. Inilah strategi trading-nya.
Pada perdagangan Senin (25/3/2013) saham PT Astra Agro Lestari (AALI) menguat Rp450 (2,49%) ke Rp18.500; PT Salim Ivomas Pratama (SIMP) naik Rp20 (2%) ke Rp1.020; PT Bakrie Sumatera Plantation (UNSP) stagnan di Rp95;
PT London Sumatera Plantation (LSIP) melemah Rp10 (0,54%) ke Rp1.810; PT Sampoerna Agro (SGRO) stagnan di Rp2.175; dan PT BW Plantation (BWPT) turun Rp10 (0,76%) ke Rp1.290 per saham.
Yusuf Nugraha, analis riset Trust Securities mengatakan, dari sisi kinerja emiten, saham-saham perkebunan masih prospektif untuk jangka panjang. Terutama, untuk AALI dan SIMP. “Laporan keuangannya cukup positif dan stabil. Kapasitas produksi Crude Palm Oil (CPO)-nya juga meningkat dibandingkan sebelumnya,” katanya kepada INILAH.COM. “Dilihat dari sisi laju harga sahamnya tidak turun tajam.”
Hanya saja, dia menggarisbawahi, dari sisi fundamental, sektor ini terganjal oleh penurunan harga CPO itu sendiri yang sekarang bertenger di level RM2.395 per metrik ton. “Penurunan harga CPO sebagai akibat dari kondisi perekonomian global yang belum membaik,” ujarnya.
Permintaan ekspor untuk CPO juga, kata dia, belum begitu banyak di pasar global. “Karena itu, kalau melihat prospek bisnis CPO masih belum membaik terutama dengan masih berlangsungnya krisis utang di Eropa,” tuturnya.
Sekarang, kata Yusuf, harapan permintaan CPO datang dari dalam negeri yang memang masih besar. Strategi emiten sektor ini pun seharusnya memperbanyak penjualan untuk konsumsi dalam negeri daripada untuk ekspor. “Tujuannya hanya satu, meningkatkan profit,” timpal dia.
Yusuf percaya, permintaan CPO dalam negeri bisa mengimbangi penurunan dari permintaan pasar global. “Memang, masih banyak harga saham CPO yang stagnan karena secara fundamental butuh penambahan lahan untuk meningkatkan produksinya agar bisa mengkonpensasi penurunan harga,” tandas dia.
Dengan demikian, seiring besarnya permintaan dalam negeri, untuk jangka pendek-menengah pun, saham-saham perkebunan memang masih prospektif. “Hanya saja, saat ini secara teknikal sedang berada dalam tren penurunan karena memang harga sahamnya pun sudah tinggi,” ungkap Yusuf.
Untuk itu, Yusuf menyarankan, untuk jangka pendek, saham-saham perkebunan secara umum lebih baik dijual. Untuk jangka panjang, masih bisa dibeli dengan porsi alokasi yang tidak terlalu banyak. “Ini untuk mengantisipasi terjadinya aksi ambil untung nantinya pada saham-saham sektor komoditas, bukan hanya CPO tapi juga profit taking pada saham-saham pertambangan,” paparnya.
Secara fundamental, Yusuf menjagokan saham AALI dengan Price to Earnings Ratio (PER) 11,8 kali dan Debt to Equity Ratio (DER) 0,33 kali. Tapi, secara teknikal saham ini berpeluang sideways dalam sepekan ke depan. Support AALI Rp18.150 dan resistance Rp18.650. “AALI bisa beli di Rp18.200 dengan target resistance sepekan ke depan. Sebeb, fluktuasinya dalam kisaran tersebut,” timpal dia.
Dia juga menyukai prospek saham SIMP. Secara PER, di level 10,5 kali, SIMP lebih murah dibandingkan AALI. Secara DER masih aman di level 0,65 kali. “Secara teknikal, bentuk pola masih doji yang menunjukkan adanya kecenderungan menurun. Tapi, karena doji hijau, ada potensi pembalikan arah menguat dalam sepekan ke depan,” ucapnya.
Secara teknikal, SIMP memiliki support Rp1.000 dan resistance Rp1.100 dalam sepekan ke depan. “Hanya saja, dalam sepekan ke depan, SIMP masih akan mendatar cenderung menguat jika melihat pola teknikal. Saya rekomendasikan beli di Rp1.050 dengan target jual di Rp1.100,” papar Yusuf.
LSIP secara teknikal juga masih cenderung melemah setelah menembus support Rp1.880 dan resistance Rp1.980. “Saya rekomendasikan jual untuk LSIP. Dalam sepekan ke depan pun, secara teknikal cenderung melemah karena indikatornya yang mendukung penurunan,” tegas Yusuf.
Meski masih satu grup, Yusuf cenderung memilih SIMP dibandingkan LSIP. Secara fundamental, LSIP belum memiliki sentimen positif dari sisi kinerja keuangannya. “Pasar masih harus menunggu apakah kinerja ke depannya lebih baik daripada sebelumnya,” timpal dia.
Meskipun, PER LSIP 11,12 kali lebih rendah dibandingkan AALI. Tapi PER tersebut lebih tinggi dibandingkan SIMP. Sementara itu, DER LSIP 0,19 kali. “Jika melihat laporan keuangan full year 2012, LSIP mengalami penurunan penjualan. Pada 2011, emiten mencatatkan penjualan Rp2,3 triliun dan 2012 di Rp2,2 triliun,” ujarnya.
Sementara itu, saham UNSP baru menjual aset lahan untuk menutupi utang jatuh tempo. Karena itu, bagi pemodal agak sulit memegang saham ini. DER UNSP sudah terbilang tinggi di posisi 1,1 kali lebih tinggi dari DER AALI. “PER-nya juga sangat tinggi 497,91 kali karena memang labanya minim,” timpal dia.
Yang dikhawatirkan, kata dia, UNSP punya risiko gagal bayar. Otomatis, UNSP punya strategi untuk menjual asetnya. “Ini kurang bagus bagi pemegang saham. Saya rekomendasikan, hindari dulu untuk saham UNSP,” kata dia menyarankan.
Apalagi, lanjut dia, secara teknikal UNSP juga punya risiko penurunan setelah pada Februari mengalami kenaikan. “Jadi ada risiko turun ke support Rp95 dengan resistance Rp100. Jadi, UNSP punya concern di masalah utangnya,” tandas dia.
SGRO secara teknikal masih cenderung melemah dengan support Rp2.100 dan resistance Rp2.210. Secara fundamental, PER SGRO jauh lebih mahal dari AALI, di level 18,22 kali tapi porsi utang masih kecil dengan DER 0,45 kali.
Laba bersih SGRO juga turun dari Rp462 miliar pada 2011 menjadi Rp226 miliar pada 2012. Begitu juga dengan pendapatan SGRO yang turun dari Rp2,5 triliun pada 2011 menjadi Rp2,1 trilun pada 2012. “Saya rekomendasikan trading sell untuk SGRO,” tuturnya.
Lalu, saham BWPT yang secara teknikal juga punya kecenderungan turun dengan support di Rp1.290 dan resistance Rp1.350. Secara fundamental, PER-nya cukup mahal di level 18,87 kali dan rasio utang yang lebih tinggi dari UNSP, di 1,79 kali. “Ini berisiko bagi pemegang saham karena ada risiko gagal bayar,” tuturnya.
Dia menegaskan, default risk pada BWPT bisa memicu kekhawatiran pasar sehingga ada potensi pendapatan tergerus untuk membayar utang. “Apalagi, pendapatan BWPT memang meningkat tapi laba bersihnya justru mengalami penurunan,” ucapnya.
Pendapatan BWPT pada 2011 sebesar Rp660 miliar sedangkan 2012 sebesar Rp764 miliar. Tapi, laba bersihnya turun dari Rp235 miliar menjadi Rp222 miliar di 2012. “Sudah labanya turun, utangnya besar. Saya rekomendasikan trading sell untuk BWPT. Untuk jangka panjang, juga potensial turun jika melihat tren pergerakan harganya dari Januari hingga saat ini,

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Macys Printable Coupons