Sebelas saham mendapat rekomendasi untuk diakumulasi Rabu (27/3/2013) dengan target jual Kamis (28/3/2013) yang merupakan hari terakhir perdagangan Maret. Apa saja?
Pada perdagangan Selasa (26/3/2013) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG
) ditutup menguat 42,86 poin (0,89%) ke 4.842,519. Intraday tertinggi 4.861,76 dan terendah 4.798,996. Volume perdagangan dan nilai total transaksi turun. Investor asing mencatatkan net buy dengan penurunan nilai transaksi beli dan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan net sell. Berikut ini wawancara lengkapnya:
Pengamat pasar modal Willy Sanjaya mengatakan, setiap tahun tutup buku pajak yakni akhir Maret, indeks mengalami kenaikan. Karena itu, hingga Kamis indeks akan terus menguat. “Untuk Rabu (27/3/2013), IHSG memiliki support 4.795 dan resistance 4.898,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Selasa (26/3/2013).
Hingga Kamis (28/3/2013), lanjut dia, terbuka lebar indeks bertenger di 4.925. IHSG juga masih terbuka lebar untuk menguat ke 5.000 setelah memasuki bulan April 2013. “Ini karena tahun tutup buku pajak tinggal dua hari kerja,” ujarnya.
Biasanya, kata Willy, ada target penutupan harga tertentu pada saham-saham tertentu. Selain itu,semua emiten harus melampirkan laporan keuangannya untuk full year 2012. “Karena itu, yang belum merilis kinerja keuangannya, mau tidak mau mereka terpaksa merilis kinerja labanya,” timpal dia.
Semua itu, kata dia, menjadi tenaga bagi penguatan IHSG karena pelaku pasar bisa membuka semua laporan emiten untuk tahun 2012 sebagai perusahaan terbuka. “Semua akan terbuka dengan transparan,” ucapnya.
Emiten, kata dia, tidak bisa menunda-nunda lagi. “Jika menunda hingga akhir Maret, akan bermasalah bagi emiten. Jadi, dalam dua hari terakhir ini, emiten ngebut untuk menyelesaikan laporan keuangannya. Ini jadi katalis penguatan IHSG,” ungkap Willy.
Sementara itu, sentimen dari Siprus seharusnya bukan lagi masalah bagi IHSG. Sebab, Siprus hanya merupakan satu negara kecil di Zona Euro dan sudah terdiskon di pasar. “Jadi, IHSG saat ini tidak ada guncangan dari sisi sentimen Eropa,” kata dia tandas.
Lalu, IHSG juga masih mendapat sentimen positif dari crossing (transaksi tutup sendiri) saham PT Matahari Departement Store (LPPF) dan beberapa aksi korporasi dari beberapa emiten. “Ini juga menandakan bahwa investor asing masih percaya penuh dengan bursa saham Indonesia sehingga terjadi transaksi yang sangat besar mencapai Rp20 triliun dalam sehari,” tuturnya.
Sedangkan inflasi, Willy mengakui, memang pada Maret ini masih berpeluang tinggi. Tapi, sentimen inflasi seharusnya sudah di-adjust ke harga pasar saat ini. “Ini sudah diperhitungkan oleh pasar saat inflasi Februari mencapai level tertinggi dalam satu dekade,” ucapnya.
Sektor-sektor yang terpengaruh inflasi pun sudah diperhitungkan. “Jadi, kalaupun inflasi Maret tinggi terutama akibat kenaikan harga bawang, tidak akan menggerogoti gerak IHSG secara signfikan karena sudah di-adjust ke pasar,” tegas dia.
Di atas semua itu, untuk saham-saham pilihan, dia melihat saham-saham sektor properti yang menurutnya masih cukup menarik. PT Bukit Sentul (BKSL) dengan target akhir Maret Rp325-330; PT Alam Sutera Realty (ASRI) dengan target Rp1.150; dan PT Intiland Development (DILD) dan target harga Rp630.
Di sektor pertambangan batu bara, PT Adaro Energy (ADRO) cukup menarik dengan target Rp1.320; PT Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) dengan target Rp14.850; PT Berau Coal Energy (BRAU) dengan Rp270; dan PT Bumi Resources Minerals (BRMS) dengan target Rp375.
Untuk perbankan, PT Bank Mandiri (BMRI) dengan target Rp10.000; PT Bank Central Asia (BBCA) dengan target Rp11.000; PT Bank Danamon (BDMN) yang tertinggal dengan target Rp6.500; dan PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dengan target Rp8.950 per saham hingga akhir Maret.
“Saya rekomendasikan buy on weakness. Jadi akumulasi saham-saham tersebut Rabu ini untuk jual di hari Kamis (28/3/2013) yang merupakan akhir perdagangan untuk Maret dan bertepatan dengan tahun tutup buku pajak
Posted in: