Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Senin (8/3/2013) diprediksi konsolidasi cenderung menguat. Pasar mengantisipasi pidato Gubernur The Fed Ben Bernanke.
Analis senior Monex Investindo Futures Zulfirman Basir mengatakan, potensi konsolidasinya rupiah awal pekan ini seiring variatifnya sentimen. Tapi, rupiah cenderung menguat karena mengantisipasi pernyataan dari petinggi The Fed.
Menurut Firman, data nonfarm payrolls AS akhir pekan lalu tentu akan menjadi fokus. "Karena itu, rupiah berpeluang konsolidasi dengan kecenderungan menguat dalam kisaran 9.730 hingga 9.770 per dolar AS,
Fokus pada nonfarm payrolls, lanjut dia, sebagai acuan sentimen terutama, jelang momentum pidato dari petinggi The di mana Gubernur The Fed Ben Bernanke akan menyampaikan pandangannya tentang perekonomian AS pada Selasa (9/4/2013) dan agenda Federal Open Market Committee (FOMC) pada Kamis (11/4/2013). "Rupiah sepertinya masih akan cenderung konsolidasi,
Lebih jauh dia menjelaskan, meski data AS Jumat malam sudah diprediksi akan melemahkan kinerja dolar AS, tapi pasar akan kembali mendapat tekanan negatif dari sentimen investor zona euro yang sudah diprediksi memburuk dari -10,6 menjadi -13,1 pada awal pekan ini.
Tapi, rupiah dapat topangan positif dari data ekonomi Asia yang menunjukkan memabaiknya kondisi ekonomi di kawasan. Terutama, dengan data neraca lancar Jepang (curret account) yang sudah diprediksi membaik dari -364,8 miliar yen menjadi 466,3 miliar yen. "Hanya saja, yen Jepang memang agak melemah sebagai imbas dari membaiknya neraca perdagangan Jepang
Alhasil, seharusnya rupiah masih akan konsolidasi dengan kecenderungan menguat. "Sebab, data non-farm payrolls AS mungkin buruk dan akan menegaskan masih perlunya kebijakan moneter longgar dari The Fed. Apalagi, pasar juga akan mengantisipasi dovish atas pidato Bernanke pada Selasa pagi WIB yang juga sudah diprediksi bernada dovish (promoneter longgar),
Asal tahu saja, kurs rupiah terhadap dolar AS
Posted in: