Setelah memcecahkan level konsolidasinya dalam kisaran Rp5.300-5.950 selama 9 bulan, saham JSMR siap melambung. Tak tanggung-tanggung, target penguatannya adalah Rp7.200.
Pada perdagangan Selasa (9/4/2013) saham PT Jasa Marga (JSMR) ditutup menguat Rp150 (2,42%) ke Rp6.350. Intraday tertinggi mencapai Rp6.400 dan terendah Rp6.250. Volume transaksi mencapai Rp16,3 juta unit saham senilai Rp103,6 miliar dan frekuensi transaksi sebanyak 729 kali.
Hendra Martono, Vice President Brokerage Strategic Development Henan Putihrai Securities mengatakan, secara teknikal saham JSMR sempat mencapai level tertingginya sepanjang sejarah pada Rabu (3/4/2013) di level Rp6.450. “Karena itu, JSMR sempat mengalami profit taking,” katanya kepadaINILAH.COM.
Menurut dia, jika masih bisa bertahan di atas Rp6.000-6.100, JSMR akan mengalami bouncing back. Sebab, level tersebut merupakan angka di mana pembelian terjadi sangat kuat. “JSMR pun berpeluang kembali menguat ke level tertingginya, Rp6.450,” ujarnya.
Dia menjelaskan, jika level tertingginya juga terpecahkan juga, saham infrastruktur jalan tol ini berpeluang menguat ke Rp6.800-7.200. “Jadi, saham ini cukup menarik,” tandas Hendra.
Lebih jauh Hendra menjelaskan, saham JSMR sebelumnya memang sudah mengalami konsolidasi selama 9 bulan dalam kisaran Rp5.300-5.950. “Sering saya katakan, jika konsolidasi dan terpecahkan, potensi penguatannya cukup jauh,” tuturnya.
JSMR memecahkan level konsolidasinya pada tanggal Rabu (27/3/2013) dan mencapai level tertingginya pada juga pada Rabu (3/4/2013). “Saya rekomendasikan buy on weakness untuk JSMR di level tengah Bollinger Band di Rp5.900 dengan catatan saat terjadi perlawanan dari aksi beli,” ucap dia.
Karena itu, pembelian bisa dilakukan dalam kisaran Rp5.900-6.100. Tapi, selama JSMR masih turun, jangan beli dulu. “Jika nanti tembus Rp5.900 ke bawah, jangan beli dulu. Sebab, support berikutnya masih jauh di Rp5.850-5.650,” timpal Hendra.
Menurut dia, level Rp5.850-5.650 merupakan area konsolidasi yang cukup lama yakni tiga belas hari berturut-turut. “Tunggu ketika pertama-tama terjadi perlawanan dari aksi beli (bottom reversal) atau baru naik,” ujarnya. “Selama belum mengalami penguatan, kita tidak rekomendasikan beli.”
Hendra kembali mengaskan, jika sudah terjadi perlawanan dari aksi beli, pembelian di Rp5.900-6.100 merupakan level yang bagus. Tapi, dia menilai di atas Rp5.900 lebih bagus.
Lalu, jika pada Rp6.000 sudah mengalami perlawanan dari aksi beli, target penguatannya masih jauh ke Rp6.700-an berdasarkan harga teoretisnya. “Lalu, jika pembelian di Rp6.300 juga kuat lagi, target pengutan selanjutnya adalah Rp7.200,” ungkap dia.
Di atas semua itu, secara fundamental, Hendra menilai JSMR tidak terlalu banyak mengalami perubahan. Price to Earnings Ratio (PER) di level 26,27 kali, Price to Book Value (PBV) di level 4,31 kali dan Return on Equity (RoE) masih bagus di 16,37%.
Posted in: