Mayoritas saham properti mendapat rekomendasi beli karena tren pergerakannya yang menunjukkan kenaikan. Tapi, ada tiga yang wajib ditahan. Inilah level pembeliannya.
Pada perdagangan Selasa (2/4/2013), saham PT Lippo Karawaci (LPKR) melemah Rp50 (3,62%) ke Rp1.330; PT Alam Sutera Realty (ASRI) melemah Rp40 (3,73%) ke Rp1.030; PT Bukit Sentul (BKSL) turun Rp10 (3,17%) ke Rp305; PT Greenwood Sejahtera (GWSA) stagnan di Rp300;
PT Modern Land Realty (MDLN) naik Rp20 (1,98%) ke Rp1.030; PT Agung Podomoro Land (APLN) turun Rp5 (1%) ke Rp495 dan PT Kawasan Industri Jababeka (KIJA) melemah Rp10 (3,33%) ke Rp290 per saham.
Yuganur Wijanarko, Kepala Riset HD Capital mengatakan, dari sentimen fundamental, saham properti terpengaruh oleh suku bunga yang kaitannya dengan kredit properti dan daya beli masyarkat. Selain itu, kata dia, faktor rupiah turut berpengaruh.
Dia menjelaskan, posisi rupiah saat ini masih stabil. Sementara itu, inflasi memang tinggi tapi tidak memicu kenaikan BI rate. Inflasi bisa berpengaruh pada kenaikan harga rumah. “Tapi, kalau inflasi naik, aset emiten properti juga naik. Dampaknya mungkin ke revaluasi aset. Tapi, menurut saya dampaknya tidak besar. Kecuali jika inflasi mencapai di atas 10%,” katanya kepada INILAH.COM.
Lalu, secara kapitalisasi pasar, saham-saham properti yang ramai ditransaksikan adalah LPKR, ASRI, BKSL, GWSA, MDLN, dan APLN.
LPKR, lanjut dia, secara Price to Earnings Ratio (PER), cukup mahal di level 31 kali dengan profitabilitas Return on Equity (RoE) saat ini year to date 2013 biasa saja yakni masih 10%. “Semakin besar RoE, semakin menguntungkan perusahaan tersebut,” timpal dia.
Secara teknikal, lanjut Yuganur, saham LPKR memiliki support Rp1.250 dengan target resistance Rp1.350 hingga Rp1.450 untuk April 2013. “Saya rekomendasikan buy untuk LPKR. Kalau tidak salah, LPKR merupakan kapitlasi pasar terbesar di sektor properti,
Sementara itu, saham ASRI memiliki support Rp1.080 dan resistance Rp1.300. PER ASRI 17 kali dan RoE 25%. BKSL dengan PER 30 kali dan RoE yang agak rendah 5%. Rekomendasi masih beli untuk BKSL dengan mengacu pada indikator teknikal. “BKSL memiliki support Rp300 dan resistance Rp330,”
Sedangkan MDLN tidak begitu likuid. “Rekomendasi tetap beli dengan support Rp920 dan resistance Rp1.000. PER MDLN 22 kali dengan RoE 11%,.
Jadi, kata dia, saham pilihan (stock pick) untuk beli di sektor properti adalah LPKR, ASRI, BKSL, dan MDLN. “Hampir semua saham properti saya rekomendasikan buy karena rata-rata dalam tren naik. Tak ada satu pun yang down trend,
Hanya saja untuk GWSA, APLN, dan KIJA dia merekomendasikan hold. Sebab, saham-saham ini sudah naik terlebih dahulu. KIJA juga masih ramai ditransaksikan dengan PER 15 kali dan RoE 10%. “Saya rekomendasikan hold untuk KIJA dengan target resistance Rp310 dan support Rp290,.
Dari sisi PER, GWSA masih murah di level 5 kali dengan profitabilitas Return on Equity (RoE) sebesar 28%. GWSA murah dan menguntungkan. “Tapi, saham ini sudah naik duluan. GWSA memiliki support Rp270 dan resistance Rp300
Selain itu, GWSA juga kurang banyak diapresiasi orang karena perusahaan ini tidak memiliki land banks. Emiten hanya bermodal beli tanah, dibangun gedung dan setelah itu dijual atau disewakan. “GWSA tidak menabung tanah-tanah kosong seperti ASRI, LPKR, ataupun BKSL. Padahal, orang Indonesia itu lebih melihat ke tanah. Sehingga jika tidak melihat bank tanahnya, tidak begitu berminat,” timpal Yuga.
GWSA dan APLN dari sisi jensihnya yang tidak punya land banks hampir sama. PER APLN di level 11 kali dan Return on Equity (RoE) 15%. Hold untuk APLN dengan support Rp485 hingga resistance Rp520 untuk April tidak jauh dari angka ini. “Jika dibandingkan, APLN lebih menarik dibandingkan GWSA. Sebab, GWSA sudah naik duluan. Apalagi, sebelumnya,GWSA merupakan bagian dari APLN,”
Posted in: