Laju IHSG dalam sepekan ke depan diprediksi punya kecenderungan menguat dalam kisaran support 4.900 dan resistance 5.000. Tapi, sentimen BBM menganduli lajunya. Seperti apa?
Pada perdagangan Jumat (12/4/2013) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG
) ditutup menguat 12,95 poin (0,26%) ke posisi 4.937,21. Intraday tertinggi 4.949,838 dan terendah 4.925,842.
IHSG selama sepekan mengalami kenaikan 11,14 poin (0,23%) berbanding terbalik dengan pelemahan sebelumnya sebesar 14,92 poin (0,30%). Kali ini indeks DBX tidak mampu menghijau dengan penurunan 0,58%.
Sementara indeks utama lainnya menguat dengan kenaikan pada indeks JII sebesar 0,63%, IDX30 0,60%, ISSI 0,47%, dan lainnya. Indeks sektoral bergerak variatif di mana 5 sektor yang menguat antara lain properti 2,20%, infrastruktur 1,62%, konsumer 0,68%, manufaktur 0,08%, dan aneka industri 0,07%. Sementara indeks sektoral lainnya memerah.
Muhammad Al Fatih, Vice President and Senior Technical Analist PT Samuel Securities mengatakan, belakangan ini, pasar mengkhawatirkan masalah inflasi dan suku bunga acuan (BI rate). “Tapi, setelah Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75%, cukup melegakan pasar sehingga sentimen negatif di pasar berkurang,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, akhir pekan lalu.
Meskipun memang, kata dia, masalah Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi dan defisit neraca perdagangan Indonesia masih membayangi laju IHSG. “Karena itu, dalam sepekan ke depan, psikologi investor akan dipengaruhi oleh keputusan soal BBM,” ujarnya.
Lebih jauh dia menilai, jika pemakaian BBM dibatasi akan lebih sehat untuk APBN. “Ini juga bisa membuat rupiah menguat dan jadi sentimen positif bagi perdagangan di bursa saham,” papar dia.
Di atas semua itu, dia melihat, dalam sepekan ke depan, IHSG punya kecenderungan menguat. “Tapi, arah ini sangat tergantung pada reaksi pasar terhadap keputusan soal BBM,” timpal dia.
Level 4.900, lanjutnya, memang masih menjadi support bagi IHSG dan 5.000 tetap menjadi resistance dalam beberapa hari ke depan
Posted in: