Laju IHSG Jumat (24/5/2013) diprediksi konsolidasi. Pelaku pasar tak perlu panik karena investor asing mengakumulasi saham di harga bawah. Sebelas saham jadi pilihan. Apa saja?
Pada perdagangan Kamis (23/5/2013) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG
) ditutup melemah 86,6 poin (1,66%) ke posisi 5.121,403. Intraday terendah 5.089,929 dan tertinggi 5.209,139. Volume perdagangan turun dan nilai total transaksi naik. Investor asing mencatatkan net sell dengan kenaikan nilai transaksi beli dan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan net buy.
Reza Priyambada, Kepala Riset Trust Securities mengatakan, banyaknya sentimen negatif membuat pelaku pasar memanfaatkannya untuk profit taking. “Apalagi dengan posisi IHSG yang memang sudah overbought, sangat rentan untuk terkoreksi apabila ada sedikit saja kabar negatif,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Kamis (23/5/2013).
Masalahnya ialah sentimen kali ini memang cukup banyak menghadang laju penguatan IHSG. “Dimulai dari penutupan bursa saham AS setelah merespons negatif hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC), naiknya yield obligasi Jepang yang berimbas pada apresiasi yen, dan rilis awal indeks manufaktur China yang terkontraksi,” ujarnya.
Lebih jauh Reza memperkirakan, pada perdagangan Jumat (24/5/2013) IHSG berada pada support 5.065-5.108 dan resistance 5.207-5.216. Indeks berpola menyerupai three inside down di bawah upper bollinger bands (UBB),” ujarnya.
Moving Average Convergence-Divergence (MACD) cenderung turun dengan histogram positif yang lebih pendek. The Relative Strength Index (RSI), William's %R, dan Stochastic cenderung turun setelah gagal mencoba dekati area overbought.
Setelah berhasil melewati target resistance, kemarin IHSG juga berhasil melewati target support 5.145. “Keberhasilan tersebut justru membawa IHSG berada di bawah area overbought sehingga memudahkan untuk bergerak konsolidasi berikutnya,” tuturnya.
Karena itu, dia mengharapkan, pelemahan indeks bisa terbatas karena ini hanya berupa imbas dari luar. “Lagipula, meski secara total tercatat net sell namun, asing juga masih mengakumulasi di harga bawah sejumlah saham sehingga tidak perlu panik berlebihan,” ucap dia.
Di atas semua itu, Reza merekomendasikan 11 saham sebagai bahan pertimbangan para pemodal. Saham-saham tersebut adalah PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), buy on weakness dengan support Rp9.000-9.150, resistance Rp9.400-9.450, dan target harga Rp9.400. “Long doji star. RSI mencoba upreversal,” ungkap dia.
PT Astra Otoparts (AUTO), trading buy dengan support Rp3.425-3.475, resistance Rp3.550-3.575. “Hammer dekati MBB. RSI upreversal,” ucapnya.
PT Wijaya Karya (WIKA), buy on weakness, dengan support Rp2.425-2.500, resistance Rp2.650-2.650-2.675, dan target harga Rp2.650. “Tweezers top di middle bollinger band(MBB),” ungkap dia.
PT Unilever Indonesia (UNVR), trading buy dengan support Rp30.250-30.550, resistance Rp31.850-32.150, dan target harga Rp31.850. “Bullish engulfing di bawah UBB,” kata Reza.
Saham-saham lainnya, PT Multipolar Corporation (MLPL) dalam kisaran Rp650-750, trading sell jika Rp690 gagal bertahan; PT Express Transindo Utama (TAXI) dalam kisaran Rp1.250-1.320, buy on weakness apabila di bawah Rp1.270;
PT Lippo Karawaci (LPKR) dalam kisaran Rp1.500-1.590, trading sell jika Rp1.530 gagal bertahan; PT AKR Corporindo (AKRA) dalam kisaran Rp5.200-5.650, buy on weakness apabila di bawah Rp5.250;
PT Summarecon Agung (SMRA) dalam kisaran Rp2.700-2.925, trading sell jika Rp2.750 gagal bertahan; PT Hanson International (MYRX) dalam kisaran Rp500-580, trading buy selama di atas Rp530; dan PT Ramayana Lestari Sentosa (RALS) dalam kisaran Rp1.400-1.520, buy on weakness apabilan turun ke bawah Rp1.420.
Posted in: