Penaikan harga BBM bersubsidi dinilai menguntungkan saham-saham sektor semen. Secara fundamental, INTP dinilai lebih menarik dan secara teknikal SMCB lebih oke.
Pada perdagangan Selasa (21/5/2013) saham PT Semen Indonesia (SMGR) menguat Rp150 (0,80%) ke Rp18.850; PT Indocement Tunggal Prakarsa (INTP) melemah Rp150 (0,58%) ke Rp25.450; dan PT Holcim Indonesia (SMCB) turun Rp25 (0,76%) ke Rp3.225 per saham.
Ukie Jaya Mahendra, analis dari Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) mengatakan, secara fundamental saham-saham di sektor semen cukup kuat. Buktinya, rata-rata Debt to Equity Ratio (DER) saham-saham semen masih di bawah 0,5 kali. DER INTP hanya 0,14 kali, SMGR 0,42 kali dan SMCB tertinggi 0,55 kali.
Selain itu, lanjut Ukie, permintaan semen untuk infrastruktur luar biasa besar sehingga potensi pertumbuhan penjualannya bisa di atas double digit untuk 2013. “Apalagi, penaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), subsidinya akan dialihkan untuk infrastruktur. Ini juga akan memicu peningkatan permintaan semen nantinya,
Perihal penaikan harga BBM bersubsidi, Ukie menjelaskan bahwa sentimen saham selalu mendahului realitas fundamentalnya. “Jika realitasnya, setelah penaikan harga BBM akan memicu peningkatan laba dari emiten sektor semen pada tahun mendatang, sahamnya naik justru sekarang,
Menurut Ukie, saat laba emiten semen benar-benar naik tahun depan, arah harga sahamnya akan ditentukan oleh proyeksi kinerja berikutnya. “Jika proyeksinya negatif, harga sahamnya akan turun akibat aksi sell on news (aksi jual yang didasarkan berita fundamental) dan akan naik jika proyeksinya positif,
Jadi, Ukie menegaskan, begitu harga BBM naik, saham-saham sektor semen akan langsung naik. “Padahal, secara fundamental baru akan terefleksi setelah laporan keuangan pada kuartal berikutnya dirilis,
Lebih jauh Ukie memperkirakan, penaikan harga BBM akan memicu kenaikan inflasi secara otomatis 1,25% hingga 1,75% (year on year). “Dari sisi biaya produksi dan transportasi, inflasi akan membebani emiten semen,” papar Ukie. “Harga semen juga naik akibat keaikan biaya produksi sehingga bisa mengurangi penjualan.”
Tapi, Ukie menggarisbawahi, karena subsidi BBM dialihkan untuk infrastruktur, permintaan semen justru akan naik lebih tinggi meskipun harga jual seman naik. “Karena itu, impact positif dari tingginya demand semen akan lebih besar daripada impact negatif dari kenaikan inflasi,
Ukie menjelaskan, semen termasuk saham sektor infrastruktur yang defensif dan bukan tipe saham yang berisiko tinggi (high risk). “Semen merupakan kebutuhan pokok bagi infrastruktur,”
Di atas semua itu, secara fundamental, Ukie mengaku paling tertarik membeli saham INTP untuk jangka panjang (long term). “Untuk buy and hold dan orientasi dividend, INTP jadi pilihan yang utama,
INTP berada pada level Price to Earnings Ratio (PER) yang paling bagus, 20,3 kali. SMGR 22,3 kali. Menurut Ukie, tren pergerakan saham INTP masih naik dalam dua pekan ke depan dengan target resistance di Rp27.500 dengan support di Rp24.500. “Untuk trading buy juga bagus untuk INTP karena likuiditasnya bagus,
Sementara itu, dari sisi teknikal (bukan fundamental) Ukie lebih tertarik pada saham SMCB yang sudah jenuh jual (oversold). Meskipun, secara PER paling mahal 33 kali. “Karena itu, pelaku pasar bisa memanfaatkan technical rebound di SMCB untuk short term trading,.
Dalam dua pekan ke depan, target resistance SMCB di level Rp3.575 dengan support Rp3.150. Untuk jangka panjang target harga SMCB di Rp4.000 hingga akhir 2013. “SMCB layak dikoleksi dengan pola akumulasi beli,
Jadi, kata Ukie, SMCB lebih cocok untuk trading jangka pendek sedangkan untuk jangka panjang dia lebih tertarik saham INTP. “SMGR berada di tengah-tengah. Secara fundamental bagus, mirip INTP, tapi secara teknikal, fluktuasi harganya tidak terlalu tinggi,.
Karena itu, bagi orang yang memegang saham SMGR lebih baik di-hold. “Posisi saya netral untuk SMGR, hold saja. Jika tembus support baru dikoleksi lagi. Support SMGR di Rp17.200 dengan target resistance Rp19.200 hingga akhir kuartal II-2013,
Posted in: