Para pemegang saham di sektor otomotif disarankan untuk mengempit saham-sahamnya. Tapi, untuk menambah saham, lebih baik mencari sektor lain. Mengapa?
David Nathanael Sutyanto, analis riset First Asia Capital mengatakan hal itu. Menurut dia, selama penjualan mobil masih tumbuh, saham-saham otomotif masik oke. Sedangkan untuk menambah portofolio, lebih baik cari sektor lain di luar otomotif yang potensi penguatannya masih potensial.
Hanya saja, kata dia, kalau sudah punya saham otomotif, bukan berarti harus profit taking karena masih potensial naik. “Hanya saja, potensi penguatan itu tentu dengan horison yang agak panjang. Untuk jangka pendek, belum saatnya untuk naik,” katanya kepada INILAH.COM.
Pada perdagangan Selasa (21/5/2013) semua saham sektor otomotif melemah. Saham PT Astra International (ASII) melemah Rp50 (0,69%) ke Rp7.150; PT Astra Otoparts (AUTO) turun Rp75 (2,2%) ke Rp3.325; PT Selamat Sempurna (SMSM) stagnan di Rp2.625; PT Indomobil Sukses Internasional (IMAS) turun Rp100 (1,86%) ke Rp5.250; dan PT Gajah Tunggal (GJTL) turun Rp75 (2,43%) ke Rp3.000 per saham. Berikut ini wawancara lengkapnya:
Seiring pelemahan IHSG, saham-saham otomotif melemah. Bagaimana Anda melihat prospek saham-saham di sektor ini?
Penjualan mobil kita untuk April, so far so good, masih naik. Artinya, prospek saham-saham sektor otomotif masih positif.
Bagaimana dengan ancaman dari penaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi?
Ancaman dari penaikan harga BBM bersubsidi harus kita lihat nanti. Bagaimanapun, sektor otomotif akan kena imbasnya tapi hanya dalam jangka pendek, 2-3 bulan. Dari sisi penaikan harga BBM, belum ada pengaruhnya ke penjualan.
Seperti apa efek penaikan harga BBM itu?
Jika harga BBM dinaikkan, 2-3 bulan pertama akan memberikan efek. Tapi, tidak akan parah dan tidak akan berlangsung terlalu lama. Saat harga BBM naik, orang butuh penyesuaian. Pada masa transisi inilah yang akan mengganggu penjualan sektor otomotif. Tapi, jika dihitung rata-rata setahun, 2013 efeknya tidak akan terlalu banyak.
Jika melihat bulanan, memang iya, penaikan harga BBM akan berdampak negatif pada penjualan. Jika harga BBM bersubsidi dinaikkan pada Juni, Juli-Agustus, sektor otomotif akan mengalami tekanan negatif dari sisi penjualan. Akan turun, tapi tidak akan terlalu banyak. Setelah itu, akan di-cover lagi oleh penjualan September-Desember 2013.
Bagaimana dengan arah harga saham-sahamnya?
Dari sisi harga sahamnya masih oke, karena sell-nya masih naik. Yang ditakutkan orang selama ini adalah penurunan penjualan itu. Jika harga BBM tidak dinaikkan, bagus untuk sektor otomotif jangka pendek. Sebab, dengan menggunakan mobil, biaya transportasi lebih murah.
Masalahnya, Jakarta macet. Pemerintah tidak punya dana untuk membangun jalan.Sebab, APBN habis terkuras untuk subsidi BBM. Jika harga BBM dinaikkan yang berarti mengurangi subsidi, pemerintah punya ruang untuk membangun jalan dan infrastruktur lain.
Karena itu, untuk jangka panjang, penaikan harga BBM ini justru akan positif untuk industri mobil baik angkutan umum maupun angkutan pribadi. Sebab, Astra sendiri kan menjual jenis taksi yang merupakan angkutan umum. Kalaupun terjadi peralihan dari angkutan pribadi ke umum, Astra juga punya peran pada angkutan umum. Begitu juga dengan IMAS. Keduanya akan bersaing.
Bagaimana dengan MRT dan Monorail?
Memang ada faktor juga Mass Rapid Transit (MRT) dan Monerail yang bisa mengalihkan angkutan pribadi ke angkutan masal tersebut. Tapi, kita tidak boleh hanya melihat Jakarta saja yang memang sudah terlalu sesak. Tapi, lihat juga potensi penjualan mobil yang akan tumbuh di daerah-daerah.
Proyek Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang didengungkan pemerintah yang dananya berasal dari subsidi BBM, itu bukan untuk Jakarta saja. Pemerintah akan membangun jalan di seluruh Indonesia. Dengan pembangunan jalan, otomatis ekonomi tumbuh dan sektor otomotif juga tumbuh.
Ada faktor lain yang membuat Anda optimistis dengan kondisi fundamental emiten di sektor otomotif?
Kalau kita lihat, ada beberapa merek otomotif yang buka pabrik di Indonesia. Chevrolet misalnya. Chevrolet pasti sudah memperhitungkan visibility-nya. Artinya, dalam 20 tahun ke depan, Indonesia masih akan tumbuh. Mereka tidak mungkin gegabah menghabiskan dana triliunan untuk membangun pabrik dengan visi jangka pendek.
Rata-rata, saham otomotif masih konsolidasi, di situ-situ saja gerakannya. Tapi, potensi penurunan juga sudah terbatas. Kalaupun ada gerakan butuh waktu dalam 3-6 bulan. Itu pun masih dalam kisaran normal tidak seperti sahm-saham sektor properti dan kosntruksi yang memang uptrend.
Lantas, apa rekomendasi Anda untuk saham-saham di sektor otomotif?
Secara umum, saya rekomendasikan hold untuk saham-saham otomotif. Sebab, selama penjualan mobil masih tumbuh, saham-saham otomotif masik oke. Sedangkan untuk menambah portofolio, cari sektor lain di luar otomotif yang potensi penguatannya masih potensial. Tapi, kalau sudah punya saham otomotif, bukan berarti harus profit taking karena masih potensial juga. Hanya saja, potensi penguatan itu tentu dengan horison yang agak panjang. Untuk jangka pendek, belum saatnya untuk naik.
Posted in: