Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Jumat (17/5/2013) diprediksi melemah seiring imbas potensi aksi ambil untung di bursa saham. Seperti apa?
Analis senior Monex Investindo Futures Albertus Christian mengatakan, potensi pelemahan rupiah akhir pekan ini terutama bakal dipicu oleh pasar yang mencemaskan terjadinya capital outflow akibat aksi realisasi untung (profit taking) dari pasar saham setelah IHSG mengalami koreksi. Faktor ini berpotensi kembali menekan rupiah.
"Karena itu, rupiah punya ruang pelemahan hingga 9.805 sedangkan potensi penguatan sudah terbatas di 9.740 per dolar AS,
Lebih jauh Christian menjelaskan, koreksi pasar saham Indonesia dipicu oleh valuasinya yang dinilai pasar terlampau mahal. Apalagi, IHSG juga sudah jenuh beli (overbought).
Sebab, kata Christian, target IHSG di 5.100 hingga 5.200 merupakan proyeksi untuk akhir tahun. "Tapi, ternyata sudah tercapai lebih dini sehingga diangkap overvalue,
Itulah, dia menegaskan, yang memicu capital outflow yang disebabkan oleh aksi profit taking. Dari sisi fundamental, capital outflow dipicu oleh data neraca transaksi berjalan (current account) Indonesia yang terus mencatatkan angka yang defisit, melemahnya fundamental ekonomi dan dampak dari kebijakan moneter global yang masih akomodatif dengan melonggarkan moneternya.
Jadi, kata dia, dari sisi ini terdapat divergensi di mana kebijakan moneter Indonesia yang memang dengan adanya penaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) justru memicu pengetatan kebijakan moneter. "Sedangkan untuk bank-bank sentral global baru akan memulai pelonggaran terutama untuk negara-negara non-AS,
Dia menegaskan, investor cenderung mengalihkan dana untuk mencari yield yang lebih tinggi. Sebab, secara valuasi pasar saham seperti Dow Jones atau Nikkei di Jepang, rasio Price Earning Ratio (PER)-nya masih rendah dibandingkan IHSG Indonesia yang relatif lebih tinggi. "PER IHSG sudah tembus di atas 20 kali. Sedangkan PER rata-rata bursa regional di level 15 kali. Dow Jones sendiri masih 14
Bursa saham Nikkei di level 17 kali dan menjadi cukup menarik di tengah otoritas moneternya yang menerapkan kebijakan pelonggaran moneter yang agresif. "Hot money bisa keluar untuk jangka pendek untuk mencari yield yang tertinggi dan secara valuasi masih dianggap cukup murah
Begitu juga dengan bursa saham Jerman, Perancis, dan Italia yang berada dalam tren kenaikan pascarilis data Produk Domestik Brutor (PDB) yang buruk. Sebab, dengan buruknya PDB, ekspektasi pasar meningkat terkait pelonggaran moneter lebih lanjut.
Ini berdampak positif untuk bursa sahamnya yang PER-nya masih murah. "PER bursa saham Perancis 12,6 kali, Italia 11,5 kali, Jerman 12,2 kali dan Spanyol 12,1 kali,
Asal tahu saja, kurs rupiah terhadap dolar AS
Posted in: