IHSG dan rupiah kompak melemah. Pasar menyadari stimulus Bank Sentral AS bakal segera berakhir.
Analis senior Monex Investindo Futures Albertus Christian mengatakan, pelemahan rupiah Selasa ini lebih dipicu oleh bertambahnya penguatan dolar AS jelang testimoni Gubernur The Fed Ben Bernanke di hadapan Kongres AS besok malam. Menurut Christian, pasar berekspektasi Bernanke akan memberikan petunjuk lebih lanjut atas laju pemulihan ekonomi AS.
Kondisi itu, kata dia, cukup positif untuk dolar AS. "Karena itu, sepanjang perdagangan rupiah mencapai level terlemahnya 9.765 setelah mencapai level terkuatnya 9.755 dari posisi pembukaan di level terkuatnya itu terhadap dolar AS,.
Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Selasa (21/5/2013) ditutup melemah 5 poin (0,05%) ke posisi 9.760/9.765 dari posisi kemarin 9.755/9.760.
Selain itu, lanjut dia, banyak investor yang menyadari bahwa kebijakan stimulus The Fed akan mendekati akhir. "Ini semakin menambah daya tarik aset-aset AS termasuk dolar AS,
Sementara itu, dari dalam negeri, BI yang mengeluarkan referensi akurat yang disebut Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) yang diberlakukan Selasa ini, dinilainya tidak berpengaruh banyak pada pergerakan rupiah. "Jisdor hanya sekedar referensi untuk memberikan informasi harga sehingga data transaksi yang sebenarnya bisa lebih kredibel,
Menurut dia, Jisdor menjadi alat bantu untuk memonitor aktivitas sehingga jadi acuan pergerakan rupiah yang lebih akurat. Jika terjadi shock di pasar, pasar tidak dibingungkan lagi oleh referensi kurs di luar negeri atau lainnya. "Ini juga bisa meredam kepanikan pasar akibat ulah spekulan,
Alhasil, dolar AS menguat terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa). Indeks dolar AS menguat 0,24% ke posisi 84,04 dari sebelumnya 83,94. "Terhadap euro, dolar AS ditransaksikan menguat ke US$1,2873 dari sebelumnya US$1,2882 per euro,
Dari bursa saham, Satrio Utomo, kepala riset PT Universal Broker Indonesia mengatakan, koreksi Dow Jones Industrial Average (DJIA) semalam sebenarnya belum memberikan sinyal negatif karena masih tutup di atas support. “Akan tetapi, pelaku pasar mengambil kesempatan dari penurunan itu untuk melakukan aksi profit taking, terutama setelah tadi pagi IHSG sempat menyentuh resisten 5.250,
Pada perdagangan Selasa (21/5/2013) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG
) dituutp melemah 26,22 poin (0,50%) ke posisi 5.188,759. Intraday terendah 5.161,994 dan tertinggi 5.251,296.
Lebih jauh dia menyampaikan, batas bawah untuk target IHSG di tahun ini sudah ditembus. Terus, resistance di level 5.200, ternyata memang resistance kuat. Hingga tutup IHSG tidak bisa bertahan di atas resistance seperti kemarin.
IHSG memang masih bisa tutup di atas support pertama 5.164 sehingga sinyal negatif, belum tentu akan muncul. Tapi tetap saja, resistance 5.200 adalah resistance yang kuat. “Adanya resistance kuat ini membuat positioning saham menjadi sangat tinggi risikonya, terutama dengan DJIA juga berada di resistance kuat dari trend channel,
Namun demikian, Satrio menambahkan, selama tiga bulan terakhir, saat ada sinyal negatif, besoknya lantas rebound.
“So, pagi tadi saya memang exit sebagian besar dari posisi saya. Tapi, sore hari ini saya masih berusaha untuk mengambil posisi contrarian: beli di bawah harga support. Langkah ini saya lakukan karena dalam 3-4 bulan terakhir, membeli ketika suport ditembus, terlihat lebih menguntungkan, terutama jika dilakukan pada saham-saham yang sektornya sedang digemari oleh pasar (konsumer atau batubara),
Posted in: