Laju IHSG Jumat (24/5/2013) diprediksi melanjutkan pelemahan seiring kurang kondusifnya bursa regional. Pilih saham dari sektor yang ekspektasi pertumbuhannya masih kuat.
Thendra Crisnanda, analis BNI Securities mengatakan, selain faktor regional pasar juga akan merefleksikan ekspektasi tingginya inflasi seiring faktor penaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Apalagi, untuk beberapa bulan ke depan, inflasi akan terus melambung seiring faktor musim masuk sekolah, momentum puasa dan lebaran.
Tapi, semua itu hanya akan memicu aksi profit taking yang dinilainya masih wajar. Apalagi, IHSG yang sejak awal tahun sudah naik lebih dari 20% dan terjadi secara cepat. “Saham-saham pilihan masih dari sektor-sektor saham yang memiliki ekspektasi pertumbuhan yang kuat yakni consumer goods, konstruksi, properti, dan sektor perdagangan,” katanya kepadaINILAH.COM.
Pada perdagangan Kamis (23/5/2013) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG
) ditutup melemah 86,6 poin (1,66%) ke posisi 5.121,403. Intraday terendah 5.089,929 dan tertinggi 5.209,139. Volume perdagangan turun dan nilai total transaksi naik. Investor asing mencatatkan net sell dengan kenaikan nilai transaksi beli dan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan net buy. Berikut ini wawancara lengkapnya:
IHSG melemah 8,6% menjauhi level psikologsi 5.200. Bagaimana Anda melihat arahnya Jumat (24/5/2013)?
Untuk Jumat ini kita melihat akan terjadinya pelemahan lanjutan IHSG. Sebab, kalau kita lihat indeks-indeks regional lainnya masih menunjukkan pelemahan yang signifikan. Indeks Nikkei melemah hingga 7,3%.
Jika ditotal dari level terkuatnya Kamis (23/5/2013), pelemahan Nikkei mencapai 11%. Sebab, di awal perdagangan, Nikkei sempat mencatatkan kenaikan hingga 4%. Karena itu, besar peluang bagi IHSG untuk melanjutkan penurunan Jumat ini.
Level support dan resistance-nya?
Jumat ini saya perkirakan indeks akan bergerak pada kisaran support 5.092 hingga resistance 5.150.
Selain faktor indeks regional, apalagi yang jadi tekanan negatif bagi indeks?
Selain itu, pasar juga akan mulai terpengaruh oleh inflasi seiring rencana penaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Sebab, untuk beberapa bulan mendatang, inflasi akan terus melambung. Tidak hanya karena faktor harga BBM, tapi juga faktor musim masuk sekolah, momentum puasa dan lebaran.
Bukankah penaikan BBM bersubsidi sangat sehat untuk APBN dan seharusnya direspons positif oleh pelaku pasar?
Memang, penaikan BBM berefek positif, tapi untuk jangka menengah-panjang. Untuk jangka pendek, efek psikologis pasar tetap saja bisa negatif. Karena pasar akan merefleksikan tingginya inflasi.
Sebab, jika inflasi tinggi dan tidak bisa terjaga, nilai tukar rupiah juga akan tetekan negatif. Rupiah bisa melemah ke atas 10.000 per dolar AS. Karena itu, untuk jangka pendek, penaikan harga BBM tetap saja negatif.
Kalau begitu, seberapa besar tekanan profit taking?
Semua itu sebenarnya hanya memicu profit taking yang wajar bagi IHSG. Apalagi, dengan IHSG yang sejak awal tahun sudah naik lebih dari 20%. Kondisi ini mengindikasikan potensi koreksi indeks merupakan hal yang wajar karena kenaikan indeks terlalu cepat.
Saham-saham pilihan Anda?
Saham-saham pilihan masih dari sektor-sektor saham yang memiliki ekspektasi pertumbuhan yang kuat yakni consumer goods, konstruksi, properti, dan sektor perdagangan.
Bagaimana strategi trading pada keempat sektor saham tersebut?
Untuk saat ini, lebih baik trading buy pada beberapa saham dari sektor-sektor itu.
Posted in: