Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Rabu (22/5/2013) diprediksi konsolidasi. Pasar menanti kepastian sikap moneter dari BoJ dan The Fed.
Analis senior Monex Investindo Futures Albertus Christian mengatakan, potensi konsolidasinya rupiah Rabu ini karena pasar punya banyak agenda penting terutama testimoni Gubernur The Fed Ben Bernanke dan rapat kebijakan moneter Bank of Japan (BoJ).
Menurut Christian, ada ketidakpastian arah moneter BoJ setelah Menteri Keuangan Jepang menyatakan, pelemahan yen yang terlalu tajam bisa berdampak negatif untuk masyarakat Jepang. Padahal, sebelumnya, pasar sudah menebak agresifnya sikap moneter BoJ. "Karena itu, rupiah berpeluang konsolidasi terlebih dahulu karena pasar bersikap wait and see testimone Bernanke dan BoJ. Rupiah akan berada dalam kisaran 9.785 hingga 9.750 per dolar AS,” katanya kepada INILAH.COM.
Jika melihat penyataan Menkeu Jepang, lebih jauh Christan menjelaskan, kebijakan moneter Jepang tak bertambah agresif untuk sementara. "Tapi, tren pelemahan yen masih akan berlanjut terhadap dolar AS karena pernyataan itu bisa saja politis setelah kritik dari G7 atas terlalu tajamnya pelemahan yen," ujarnya.
Sementara itu, lanjut dia, testimoni Bernanke memberikan ancaman bagi rupiah. Sebab, testimoni itu bisa saja memperkuat rally dolar AS akhir-akhir ini. "Apalagi, rally dolar AS juga mengindikasikan bahwa para pelaku pasar sedang mengantisipasi adanya perubahan kebijakan The Fed dari pro moneter longgar menjadi ketat," timpal dia.
Karena itu, dia menambahkan, komentar Bernanke bisa meneruskan atau justru mengakhiri rally dolar AS. "Jadi, sebenarnya masih banyak ketidakpastian," ucapnya.
Menurut Christian, Meski Bernanke belum akan langsung menyatakan pengetatan moneter, tapi akan jadi langkah yang semakin dekat ke arah pengetatan tersebut. "Yang perlu diwaspadai, jika nanti Bernanke memberikan sinyal bahwa program pembelian obligasi itu akan divariasikan atau dengan kata lain direduksi atau secara langsung Bernanke menyatakan optimistis atas outlook ekonomi AS," papar dia.
Jika itu yang terjadi, dolar AS bisa semakin meroket terhadap rupiah. "Sebaliknya, jika Bernanke lebih banyak bicara mengenai keterbatasan ekonomi AS akibat hambatan fiskal, dolar AS bisa jatuh akibat profit taking dan investor sadar pencabutan stimulus belum akan terjadi dalam waktu dekat," ungkap dia.
Selain itu, pasar juga akan mendapatkan data sentimen konsumen dari Australia yang angkanya diprediksi memburuk dari -5,1% menjadi -5,5% sehingga menjadi sentimen negatif bagi mata uang non-dolar AS.
Tapi, di sisi lain, neraca perdagangan Jepang sudah diprediksi menunjukkan kenaikan ekspor . "Hanya saja, masih mencatatkan defisit di level -0,61 triliun yen untuk April 2013 atau sedikit menyusut dari bulan sebelumnya -0,92 triliun yen. Membaiknya defisit Jepang seiring pelemahan tajam yen," imbuhnya.
Asal tahu saja, kurs rupiah terhadap dolar AS
Posted in: