Dalam beberapa bulan terakhir, bobot portofolio telah mengalami rotasi dari saham ASII ke TLKM seiring perubahan fundamental. Karena itu, TLKM jadi saham yang wajib dimiliki.
Yuganur Wijanarko, Kepala Riset HD Capital mengatakan, dalam 3-4 bulan terakhir terjadi rotasi bobot saham dari ASII ke TLKM. Para fund manager, melihat terjadi perubahan fundamental pada saham ASII seiring pelemahan harga batu bara dan kerugian ASII dari sisi penjualan mobil.
Apalagi, penjualan mobil juga diperkirakan turun apabila harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dinaikkan. “Lalu, dengan adanya pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) dan Monorail, baru wacana saja, jelas pelaku pasar sudah mendiskon harga saham ASII. Jika dua proyek itu jadi, jelas akan menggerogoti penjualan mobil Astra,” katanya kepada INILAH.COM.
Pada perdagangan Selasa (14/5/2013) saham PT Telekomunikasi Indonesia (TLKM) ditutup stagnan di Rp11.850; PT Indosat (ISAT) menguat Rp100 (1,75%) ke Rp5.800; PT XL Axiata (EXCL) naik Rp50 (0,98%) ke Rp5.150; PT Bakrie Telecom (BTEL) stagnan di Rp50; dan PT Smartfren Telecom (FREN) turun Rp1 (1,12%) ke Rp88 per saham. Berikut ini wawancara lengkapnya:
Laju saham-saham sektor telekomunikasi variatif. Bagaimana kondisi fundamental saham-saham sektor ini?
Secara fundamental, saham-saham telekomunikasi sudah matang (mature). Mereka harus ekspansi dari seluler dan layanan data internet ke multimedia. Mereka harus cari wahana lain. Mereka harus diversifikasi core business-nya di sektor telekomunikasi.
TLKM punya layanan seluler, data, dan multimedia. Tapi, saya lihat transformasi Telkom sudah selesai. TLKM punya Telkomvision dan Speedy. Internet yang fixed line lebih sukses dibandingkan yang seluler. Jadi, di sektor telekomunikasi, saham yang paling bagus adalah TLKM. Secara fundamental, Price to Earnings Ratio (PER) 17 kali dan Return on Equity (RoE) 20%. Jadi, lumayan lah untuk TLKM.
Bagaimana dengan tren teknikal-nya untuk TLKM?
Trennya masih naik untuk jangka menengah dan jangka panjang. Tapi, untuk jangka pendek masih konsolidasi. Untuk jangka menengah panjang masih naik dengan target Rp12.400 dalam tiga bulan ke depan.
Apa rekomendasi Anda untuk TLKM?
Saya rekomendasikan strong buy untuk TLKM. Untuk dua pekan ke depan, masih mencari arah dalam kisaran support 11.400 hingga resistance Rp12.000 per saham.
Ada faktor lain yang mendukung positifnya saham TLKM?
Selain itu, di pasar juga terjadi rotasi. Yang tadinya para fund manager memegang saham PT Astra International (ASII) sebagai kapitalisasi pasar terbesar, sekarang banyak fund manager terutama asing yang beralih ke TLKM. Sebab, para fund manager, melihat terjadi perubahan fundamental pada saham ASII.
Apa yang terjadi dengan ASII?Seiring pelemahan harga batu bara, ASII mengalami kerugian di anak usahanya PT United Tractor (UNTR). ASII juga rugi dari sisi penjualan mobil. Apalagi, penjualan mobil juga diperkirakan turun apabila harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dinaikkan.
Lalu, dengan adanya pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) dan Monorail, baru wacana saja, jelas pelaku pasar sudah mendiskon harga saham ASII. Jika dua proyek itu jadi, jelas akan menggerogoti penjualan mobil Astra.
Secara fundental, ASII akan mengalami perubahan fundamental dalam dua tahun ke depan seiring adanya MRT. Karena itu, bobot kepemilikan saham beralih dari ASII ke TLKM dalam dua tahun ke depan. Kapitalisasi TLKM yang Rp200-an triliun saat ini akan bertambah menjadi di atas ASII yang saat ini masih Rp300-an triliun.
Fund manager itu harus memegang salah satu saham dengan kapitalisasi pasar terbesar. Karena itu, orang membeli TLKM bukan karena fundamentalnya, melainkan karena memang harus punya saham itu. Sebab, kalau melihat sisi bisnisnya sudah sangat matang sehingga susah berkembang. Jadi, kelihatan terjadi peralihan dari ASII ke TLKM.
Sudah berapa lama terjadi peralihan dari ASII ke TLKM?
Hal ini terjadi dalam 3-4 bulan terakhir. Jadi, kalau sudah begini tidak bicara fundamental yang jadi pertimbangan tapi weighting (bobot) TLKM dalam portofolio untuk menggantikan posisi ASII.
Bagaimana dengan saham EXCL?
EXCL tadinya merupakan perusahaan yang bagus. Tapi, secara fundamental kelihatan, saham ini terlalu mahal dengan PER 33 kali dan RoE yang hanya 8%. Jadi, kalau menurut saya, saham ini terlalu mahal. Beda dengan TLKM yang PER 17 kali tapi RoE besar 20%.
Karena itu, tren jangka menengah dan tren jangka panjang EXCL menurun. Untuk jangka pendek, EXCL punya support di Rp4.800 dan resistance Rp5.400. Tapi, untuk jangka menengah, EXCL bisa turun ke Rp4.200. Saya rekomendasikan sell untuk EXCL.
ISAT sendiri?
ISAT mengalami perubahan fundamental. Dua tahun lalu rugi dan sekarang untung. Tapi, PER-nya terlalu mahal dengan PER 86 kali dan RoE 2%. Karena itu, jika saham ini mengalami penguatan, saya rekomendasikan sell on strength.
Secara teknikal, bisa saja menguat mengikuti saham TLKM ke Rp6.200 dengan support Rp5.700 per saham, tapi tidak akan sekencang TLKM. Tapi, arah ISAT dalam tiga bulan ke depan mungkin turun ke Rp5.300.
BTEL Bagaimana?
BTEL secara teknikal tidak bisa dilihat tren pergerakannya. Sahamnya diam saja dalam setahun. Secara fundamental, perusahaannya rugi. Apa yang mau diomongin. Price to Book Value (PBV) doang yang murah 1 kali. Perusahaan rugi dan sahamnya tidak bergerak tinggal menunggu rumor akuisisi atau mungkin beli untuk ekspansi multimedia. Waktu itu ada rumor diakuisisi oleh TLKM tapi tidak jadi. Jadi, rekomendasi saya untuk BTEL, tidak usah dilihat. Untuk layanan internet, BTEL tidak sukses. BTEL juga tidak main multimedia.
Bagaimana dengan saham FREN yang mencatatkan pertumbuhan pelanggan?
FREN, perusahaan ini rugi. Tapi, secara PBV sangat murah di bawah 1 kali yakni 0,33 kali. Dengan murahnya PBV, orang bisa berharap untuk jangka panjang. Mungkin saja bisa naik suatu saat, entah kapan dengan target Rp130 untuk setahun.
Jika PBV FREN naik dari 0,33 kali ke 1 kali, seharusnya saham ini bisa naik dua kali lipat. Tapi, ini masih mendingan dibandingkan saham BTEL. Secara teknikal, tidak bisa di-trading-kan untuk jangka pendek. Tapi, kalau maksa trading boleh di dekat-dekat Rp80-85 per saham, buy on weakness dan sell jika mendekati Rp100 per saham. FREN juga main internet, tapi sinyal masih jelek tidak sebagus Speedy Telkom. Coba deh.
Posted in: