IHSG anjlok disusul pelemahan nilai tukar rupiah. Pasar merespons penaikan harga BBM bersubsidi dan faktor eksternal terutama kondisi ekonomi China dan AS.
Analis senior Monex Investindo Futures Albertus Christian mengatakan, pelemahan rupiah hari ini dipicu oleh longsornya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Sebab, pelemahan IHSG mencerminkan adanya arus capital outflow yang cukup besar.
Pelemahan IHSG, kata Christian, dipicu oleh aksi jual bersih (net sell) asing yang berlanjut dari Rp1,5 triliun pada awal pekan menjadi Rp3,98 triliun hari ini. "Karena itu, sepanjang perdagangan, rupiah mencapai level terlemahnya 9.830 setelah mencapai level terkuatnya 9.810 dari posisi pembukaan 9.815 per dolar AS,
Kurs rupiah
terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Selasa (11/6/2013) ditutup melemah 10 poin (0,101%) ke posisi 9.820/9.830 dari posisi kemarin 9.810/9.820.
Menurut Christian, net sell itu mengindikasikan kecemasan para investor terhadap ketidakpastian subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) dan juga dipicu oleh faktor ekstenal. "Data-data China yang dirilis sebelumnya menunjukkan perlambatan ekonomi kedua terbesar di dunia itu,
Akibatnya, outlook defisit neraca berjalan Indonesia pun semakin membengkak. "Jadi, selain ketidakpastian masalah subsidi BBM yang memicu lambungan inflasi, outlook ekonomi Indonesia untuk kuartal II ini dan selenjutnya cenderung melemah,
Faktor-faktor itu, kata dia, yang memicu investor asing melakukan aksi net sell. "Kondisi ini memicu berkurangnya secara signifikan permintaan terhadap rupiah,
Pada saat yang sama, lanjut dia, kebutuhan atas dolar AS meningkat signfikan terutama untuk pembayaran utang luar negeri yang jatuh tempo yang otomatis dalam denominasi dolar AS.
Belum lagi, dengan suplai dolar AS sendiri yang menipis. "Sebab, kebanyakan investor saat ini masih enggan melepas dolar AS mengingat adanya peluang penarikan stimulus moneter dari The Fed lebih cepat,
Kondisi itu, lanjut Christian, didukung oleh outlook perekonomian AS yang dianggap pasar lebih cenderung ke atas dibandingkan ke bawah. "Karena itu, para investor lebih berminat untuk menyimpan dolar AS. Faktor supply-demand ini mempengaruhi tekanan negatif pada rupiah,
Alhasil, dolar AS menguat terhadap mayoritas mata uang utama tapi melemah terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa). Indeks dolar AS menguat ke 81,55 dari sebelumnya 81,43. "Terhadap euro, dolar AS ditransaksikan melemah ke US$1,3284 dari sebelumnya US$1,3255 per euro,
Dari bursa saham, Abidin, analis dari Millenium Danatama Securities mengatakan, pelemahan IHSG dipicu oleh capital outflow yang sangat serius. Sejak 23 Mei 2013, aksi net sell investor sudah mencapai Rp12 triliun. “Angka tersebut ditambah dengan net sell per Selasa ini senilai Rp3,98 triliun,
Pada perdagangan Selasa (11/6/2013) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG
) longsor 167,42 poin (3,50%) ke posisi 4.609,948. Intraday terendah 4.573,286 dan tertinggi 4.781,243. Investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp3,98 triliun.
Alhasil, kata dia, total net sell asing mencapai Rp16 triliun. Dia menjelaskan, capital outflow dipicu oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah faktor kemungkinan bank sentral AS, The Fed memangkas stimulus moneter dalam waktu dekat.
Selain itu, pasar mengkhawatirkan, pertumbuhan ekonomi China yang melambat dan perlambatan ekonomi Indonesia jelang penaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. “Dari dalam negeri, pasar mengkhawatirkan faktor penaikan harga BBM bersubsidi,
Menurut dia, pasar memang sudah melihat kepastian penaikan harga BBM. Tapi, pasar mengantisipasi efeknya terhadap perekonomian Indonesia dan pengaruhnya terhadap IHSG. “Saya melihat, penurunan akibat capital outflow ini cukup serius sehingga efeknya bersifat jangka menengah, minimal dua bulan,
Secara terpisah, Satrio Utomo, kepala riset PT Universal Broker Indonesia mengatakan, kalau melihat IHSG yang sempat terkoreksi 4% hari ini, merupakan penurunan yang menarik untuk membeli saham. “Tapi, karena Hang Seng Index (HSI) ditutup di bawah support, saya pilih belinya besok saja,
Posted in: