Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Senin (17/6/2013) diprediksi mendatar. Pasar menanti hasil pertemuan G8 dan rapat moneter The Fed.
Analis senior Monex Investindo Futures Zulfirman Basir mengatakan, potensi mendatar (sideways)-nya pergerakan rupiah awal pekan ini salah satunya dipengaruhi oleh topik pasar yang pekan ini lebih fokus pada Bank Sentral AS, The Fed. Menurut dia, pasar sudah mulai mengantisipasi apa yang akan dilakukan oleh The Fed ketika bank sentral AS itu merampungkan hasil pertemuan moneter Federal Open Market Committee pada 18-19 Juni 2013 atau Kamis (2/6/2013) dinihari waktu Indonesia.
Pasar, Firman menegaskan, akan mulai mengantisipasi kemungkinan pengurangan stimulus. "Karena itu, Senin ini rupiah akan sideways dalam kisaran 9.830 hingga 9.900 per dolar AS,
Jadi dari sisi dolar AS, lanjut dia, untuk beberapa hari terakhir ini investor kemungkinan akan melihat aksi bargain hunting dolar AS. "Sebab, dalam dua pekan terakhir dolar AS cukup melemah tajam," ujarnya.
Firman memperkirakan, dolar AS akan coba rebound jelang pertemuan The Fed tersebut. "Apalagi, posisi nilai tukar euro dan poundsterling sudah jenuh beli (overbought),
Selain itu, untuk Senin ini, kata dia, pasar juga akan fokus pada pertemuan negara-negara anggota G8. "Tapi, topiknya tidak akan banyak mempengaruhi pergerakan pasar valas,
Sebab, G8 mungkin hanya memberikan ruang bagi kebijakan moneter untuk menjaga momentum pemulihan ekonomi di masing-masing negara. "Jadi, topiknya lebih pada kebijakan moneter,
Negara-negara G8, lanjut Firman, akan proaktif untuk membahas pemulihan ekonomi. "Dari sisi fiskal, tidak akan menjadi topik dominan mengingat mayoritas negara anggota G8 masih dalam posisi pengetatan fiskal,
Sementara itu, kenaikan tajam IHSG akhir pekan lalu, menurut Firman, tentunya cukup positif ke rupiah. "Sebab, pelemahan rupiah dalam sepekan terakhir lebih dipicu oleh keluarnya investor asing dari bursa saham Indonesia dan juga pasar obligasi,
Kalau kita melihat IHSG yang mulai rebound signifikan, kata Firman, ini memberikan sinyal bahwa investor asing mulai melirik aset keuangan di Indonesia dan harusnya bisa memberikan harapan bahwa aliran dana asing akan mulai mengalir masuk.
Hanya saja, Firman menggarisbawahi, kalau kita lihat, rupiah hanya menguat tipis sedangkan IHSG menguat tajam. Berarti, sebenarnya rupiah masih membutuhkan katalis yang lebih banyak lagi.
Apalagi, lanjut dia, penguatan IHSG semata faktor bargain hunting. "Sebab, bagaimanapun dari sisi investor lebih ingin melihat kapan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi benar-benar dinaikkan," ujarnya.
Firman menilai, harga BBM masih terkatung-katung sehingga menimbulkan ketidakpastian di pasar. Pasar tidak suka dengan yang tak pasti-pasti. "Kita akan melihat fluktuasi dari IHSG hingga pemerintah benar-benar mengambil sikap yang jelas terhadap kenaikan harga BBM bersubsidinya. Tanggal pasti kenaikan BBM penting bagi pasar karena bisa dijadikan patokan akan momen yang pas untuk masuk pasar," imbuhnya.
Asal tahu saja, kurs rupiah terhadap dolar AS
Posted in: