Inilah Sentimen Saham Regional Sepekan

Headline

Dalam sepekan terakhir, bursa saham Asia, Eropa dan AS kompak melemah. Inilah sentimen-sentimen yang mempengaruhinya.
Reza Priyambada, Kepala Riset Trust Securities mengatakan, indeks saham Asia cenderung melemah selama sepekan pascaapresiasi yang cukup signifikan pada nilai tukar yen Jepang pascakomentar Gubernur Bank of Japan (BoJ) Haruhiko Kuroda. “Kuroda menyatakan, Jepang mampu bertahan dengan tingkat suku bunga tinggi,
Selain itu, lanjut dia, komentar dari Presiden China, Xi Jinping, bahwa pemerintah memberikan toleransi terhadap ekspansi yang melambat untuk mencegah ekonomi terdegradasi. “Sentimen ini sempat memberikan sentimen negatif,
Namun, kata dia, dengan adanya komentar tambahan bahwa pemerintah China tidak akan mengorbankan kondisi pasar untuk pertumbuhan ekonomi membalikkan kondisi pasar menjadi positif . “Apalagi, ada rilis awal kinerja emiten industrial yang akan meningkat profitnya,” tutur dia.
Beberapa sentimen lain yang turut mempengaruhi laju bursa saham Asia antara lain, kembali melemahnya nilai tukar yen di pertengahan pekan setelah komentar penasehat PM Jepang bahwa pemerintah dapat mempertimbangkan menambah stimulus.
Lalu, komentar PM China, Li Keqiang, bahwa pemerintah dihadapkan pada tantangan besar seiring dengan terbukanya ekonomi dan rencana reformasi yang ditujukan untuk pertumbuhan ekonomi China; dan sentimen adanya beberapa persetujuan antar perusahaan. “Semua itu turut memberikan respons positif,”
Tidak beberapa lama, lanjut Reza, indeks saham Asia kembali dihantam sentimen negatif. Terutama, setelah harga saham-saham produsen energi tertekan dan adanya penurunan proyeksi ekonomi China oleh International Monetary Fund (IMF). “Tetapi, laju Nikkei masih dapat positif dengan kenaikan pada saham-saham keuangan, energi, dan ritel pascarilis kenaikan retail sales Jepang,” ucapnya.
Sampai akhir pekan, kata dia, bursa saham Asia masih di jalur merah dengan penurunan signifikan masih dialami oleh indeks Hang Seng Index (HSI) setelah saham-saham komoditas dan raw materials kembali turun serta terimbas pelemahan bursa saham Eropa dan AS.
Selain itu, kata dia, pelaku pasar juga masih terimbas penilaian IMF yang menurunkan outlook pertumbuhan China sehingga lebih banyak menahan diri. “Di sisi lain, kembali naiknya yen Jepang turut memberikan imbas negatif,”
Begitu juga dengan bursa saham Eropa yang tertekan selama sepekan. Padahal di awal pekan sempat rebound setelah kenaikan saham-saham otomotif dan teknologi. “Meski bursa saham Inggris libur namun, dengan positifnya rilis data-data ekonomi di sejumlah zona euro membuat pelaku pasar kembali masuk ke bursa,” tandas Reza. Data-data itu antara lain, kenaikan manufacturing confidence Belanda, kenaikan retail sales Swedia, dan lainnya.
Di sisi lain, kenaikan juga dipicu berita positif di beberapa emiten dan kenaikan saham-saham perbankan serta rilis sejumlah data-data ekonomi seperti kenaikan retail sales Irlandia dan trade balance Swedia. “Akan tetapi, laju positif ini terhambat setelah merespons penurunan proyeksi IMF terhadap ekonomi China dan kenaikan unemployment Jerman di atas estimasi,” 
Pada saat yang sama, pelaku pasar kembali bersikap skeptis terhadap rilis kenaikan data-data ekonomi AS karena kekhawatiran penarikan stimulus The Fed. “Meski jelang akhir pekan terdapat sentimen positif dari kenaikan saham-saham bank dan pertambangan seiring upgrade yang dilakukan Morgan Stanley pada beberapa perusahaan tambang,”
Lalu, sentiment positif juga datang dari rilis kenaikan di atas estimasi Produk Domestik Bruto (PDB) Spanyol; consumer dan business confidence zona euro; dan beberapa data positif lainnya. “Namun, semua itu, belum mampu mengimbangi pelemahan yang terjadi sebelumnya,”
Pelemahan sebelumnya dipicu oleh respons negatif terhadap penilaian IMF terhadap China dan kembali beredarnya spekulasi penarikan stimulus The Fed.
Laju negatif bursas saham Asia dan Eropa, lanjut Reza, mempengaruhi laju bursa saham AS yang juga tertekan. “Padahal di awal pekan sempat menghijau pascalibur memorial day seiring dengan rilis kenaikan data consumer confidence dan indeks harga perumahan,”
Pasar sempat sementara tak menghiraukan imbas komentar The Fed terkait rencana pengurangan stimulus secara bertahap bila data-data ekonomi AS menunjukkan perbaikan karena menilai jika quantitative easing ditarik akan ada sedikit guncangan. “Mulai turunnya saham-saham konsumer dan utilitas serta terpengaruh oleh pelemahan bursa saham Eropa dan variatifnya laju bursa saham Asia membalikkan laju bursa saham AS jadi melemah,”
Pelemahan itu, juga terutama dipicu oleh penilaian IMF yang memangkas outlook pertumbuhan China dan pemangkasan pertumbuhan global oleh OECD menjadi 3,1% dari 3,4%.
Jelang akhir pekan rilis Produk Domestik Bruto (PDB) AS kuartalan sebesar 2,4% untuk kuartal I-2013 di bawah estimasi 2,5% dan kembali naiknya klaim pengangguran menunjukkan belum sepenuhnya ekonomi AS pulih. “Hanya saja, data-data negatif tersebut dapat diimbangi oleh kenaikan consumer sentiment sehingga memunculkan kembali spekulasi penarikan stimulus The Fed sehingga membuat indeks-indeks saham AS terkoreksi,

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Macys Printable Coupons