Majalah InilahREVIEW Edisi ke-41 Tahun II VIVA Tetap Bersama Bakrie

Headline

TAK ada kejutan pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Visi Media Asia Tbk (VIVA), di Studio ANTV, Kompleks Rasuna Epicentrum Lot 9, Kuningan, Jakarta, Rabu pekan lalu. Keputusan RUPST antara lain hanya mengumumkan, VIVA tidak membagikan dividen untuk tahun buku 2012.
Padahal, beberapa hari sebelumnya tersiar kabar akan ada pengumuman penting dari hasil RUPST VIVA. Yakni, pelepasan 49% saham PT Cakrawala Andalas Televisi, pengelola stasiun televisi ANTV, ke konglomerasi media Grup Media Nusantara Citra (MNC), milik Hary Tanoesoedibjo.
Bahkan, kabar itu menyebutkan, hargaANTV dibanderol sampai Rp 6 triliun. Angka ini tentu saja luar biasa. Sebab, berdasarkan laporan keuangan Visi Media Asia per kuartal I-2013, aset Cakrawala Andalas Televisi hanya Rp 1,04 triliun.
Namun, kalau melihat kinerja ANTV dari tahun ke tahun, harga sebesar itu cukup pantas. Lihat saja dari pendapatan VIVA pada 2011 senilai Rp 970 miliar, sebesar Rp 460 miliar disumbang oleh ANTV. Angka itu dipastikan melonjak mengingat pendapatan VIVA di tahun 2012 sudah mencapai Rp 1,2 triliun.
Tak hanya itu. ANTV juga telah mengantongi hak siar Piala Dunia 2014. Dengan memegang hak siar olahraga yang sangat digemari rakyat Indonesia ini, keuntungan yang diperoleh televisi nasional ini semakin bertambah gemuk. Sederet prestasi inilah yang membuat ANTVpunya harga cukup mahal di mata para investor.
Tapi, benarkah ANTV akan dilego kepada Grup MNC? “Ini masih spekulasi dan saya tidak bisa komentar,” ujar Anindya Novyan Bakrie, Komisaris Utama PT Visi Media Asia Tbk kepadaInilahREVIEW (lihat: Ini Masih Spekulasi).
Memang, bisa dimaklumi kalau kabar penjualan tersebut berhembus cukup kencang. Sebab, belakangan ini hubungan bisnis Grup MNC dan Grup Bakrie cukup intensif. Menjelang akhir tahun lalu, misalnya, Hary Tanoe membeli semua jalan tol yang dibangun dan dikelola oleh PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) milik Grup Bakrie senilai Rp 3 triliun.
ELTY menjual dua jenis aset miliknya. Pertama, adalah anak usaha mereka, PT Bakrie Toll Road (BTR) yang memiliki lima konsesi jalan tol, yakni Ciawi-Sukabumi, Kanci-Pejagan, Pejagan-Pemalang, Batang-Semarang dan Pasuruan-Probolinggo. ELTY mematok harga lima konsesi jalan tol itu sebesar Rp 2 triliun.
Kedua, ELTY juga menjual kepemilikan aset di Lido Resort senilai Rp 1 triliun. ELTY menjual kedua aset tersebut dalam satu paket kepada Grup MNC pada akhir tahun 2012.
Tak hanya itu. Pada Board Meeting Bumi Plc Februari lalu, Keluarga Bakrie menggandeng Hary Tanoe untuk membendung laju Nathaniel Rothchild yang berkolaborasi dengan Hashim Djojohadikusumo untuk menguasai Bumi Plc. Upaya Rothschild itu gagal setelah Bakrie menggandeng Hary Tanoe.
JADI REBUTAN
Jadi, wajar saja kalau muncul kabar VIVA akan menjual ANTV kepada Grup MNC. Bahkan, kalau mau ditarik garis ke belakang, tak cuma ANTV yang akan dijual, tapi VIVA sebagai holding.
Memang, sejak beberapa bulan lalu, kabar penjualan VIVA menjadi isu yang cukup hangat. Sejak itu pula beredar kabar bahwa beberapa taipan media mengajukan penawaran kepada Bakrie. Selain Hary Tanoe lewat Grup MNC, juga ada Chairul Tanjung (CT Corp), Sariaatmadja (SCTV dan Indosiar), termasuk Kompas Gramedia Group.
"Kami pernah ditawari. Namun, harganya memang kemahalan," kata Agung Adiprasetyo, Chief Executive Officer (CEO) Kompas Gramedia Group kepada Kompas.com beberapa waktu lalu.
Chairul sendiri termasuk yang paling bernafsu untuk membeli saham VIVA. Bahkan, pemilikTrans TV dan Trans 7 sudah menyiapkan dana sebesar US$ 1,8 miliar atau sekitar Rp 17,5 triliun untuk memborong semua saham perusahaan yang mengoperasikan tvOne, ANTV, danVivanews.com ini. "Hanya kami (pembeli) yang bisa membayar tunai seratus persen,” ujar Chairul Tanjung, seperti dikutip Reuters.com beberapa waktu lalu.
Tak hanya Chairul. Hary Tanoe pun demikian. Pemilik Grup MNC, yang mengendalikan puluhan televisi ini, kabarnya beberapa kali sempat menawar harga kepada Bakrie. "Sebagai orang media, kalau misalnya medianya bagus, ada willing buyer willing seller ya tidak apa-apa," ujarnya.
Namun, dari sekian penawar itu, Bakrie cenderung memilih Grup MNC, terutama dalam hal penjualan ANTV. Pembelian ANTV oleh MNC, kata sumber majalah ini, dikemas dengan opsibuy back agar di kemudian hari Bakrie bisa membeli kembali saham ANTV.
Arya Sinulingga, Corporate Secretary MNC Group mengakui bahwa VIVAmemang pernah mengungkapkan niatnya untuk menjual ANTV melalui konsultan asing. “Setelah kami lakukan perhitungan, menarik juga,” kata Arya kepada InilahREVIEW (lihat: Kami Wait and See Saja).
KINERJANYA BAGUS
Bakrie dikabarkan ingin menjual VIVA untuk mendapatkan dana segar dalam rangka pembelian kembali saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang ada di Bumi Plc. Maklum, Bakrie ingin ‘bercerai’ dengan Bumi Plc karena kerap berselisih dengan Nathaniel Rothschild, salah satu pemegang saham perusahaan yang tercatat di bursa efek London tersebut.
Dalam skema perceraian itu, Grup Bakrie akan menukar guling 23,8% sahamnya di Bumi Plc dengan 10,3% saham BUMI. Selain itu, mereka juga menawarkan pembelian 18,9% saham BUMI yang dipegang Bumi Plc seharga US$ 278,3 juta. Sebagai tanda jadi, pada Februari lalu Bakrie telah menyetor dana sebanyak US$ 50 juta.
VIVA sendiri termasuk perusahaan yang cukup bersinar di Grup Bakrie. Tahun 2012, VIVA mencatat laba bersih sebesar Rp 72,92 miliar atau naik 177% dibandingkan laba bersih tahun 2011 senilai Rp 26,26 miliar.
Dalam laporan keuangan yang dipublikasikan, naiknya laba bersih itu karena pendapatan terdongkrak sebesar 25,06% menjadi Rp 1,24 triliun dari tahun sebelumnya Rp 992,63 miliar.
Selain itu, VIVA adalah perusahaan yang punya kapitalisasi pasar cukup besar. Menurut Neil Tobing, Corporate Secretary VIVA, pada 8 Februari 2013, nilai kapitalisasi pasar VIVA di Bursa Efek Indonesia mencapai Rp 8,67 triliun.
Nilai kapitalisasi pasar itu bisa bertambah gemuk bila akhir tahun ini VIVA jadi meluncurkan televisi berbayar bernama VIVA Sky. Menurut Presiden Direktur VIVA, Erick Tohir, kekuatan dari VIVA Sky ini adalah pada tayangan Piala Dunia 2014. “Target kami dapat meraup 300 ribu pelanggan pada semester I-2014,” kata Erick Tohir kepada InilahREVIEW seusai RUPST VIVA, Rabu pekan lalu.
Jadi, melihat kinerja yang bagus dan langkah yang apik ini, kecil kemungkinan VIVA dijual kepada investor. Itu artinya, VIVA masih tetap di tangan Bakrie. “Kami akan terus meningkatkan kinerja VIVA,” kata Anindya.
Lantas, bagaimana upaya Bakrie mendapatkan dana segar untuk membeli kembali saham Bumi Resources yang ada di Bumi Plc? “Anak perusahaan Bakrie kan masih banyak,” kata sumber majalah ini.
Selengkapnya, artikel ini bisa disimak di majalah InilahREVIEW edisi ke-41 Tahun II yang terbit Senin, 10 Juni 2013.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Macys Printable Coupons