Pasar Mulai Khawatir Pelambatan Ekonomi RI

Headline

 IHSG dan rupiah kompak melemah. Pasar mulai mengkhawatirkan pelambatan ekonomi Indonesia akibat penaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Seperti apa?
Analis senior Monex Investindo Futures Zulfirman Basir mengatakan, pelemahan rupiah awal pekan ini salah satunya dipicu oleh investor yang khawatir dengan berlanjutnya perlambatan ekonomi Indonesia. Kekhawatiran ini menguat setelah Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Jumat pekan lalu menyetujui anggaran konpensasi penaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi sebagaimana diusulkan pemerintah.
Menurut Firman, pasar khawatir dengan disetujuinya anggaran konpensasi itu, pemerintah akan segera menaikkan harga BBM bersubsidi. Kenaikan harga BBM akan memberikan dampak negatif terhadap perekonomian untuk jangka pendek. "Karena itu, sepanjang perdagangan rupiah mencapai level terlemahnya 9.815 dari posisi terkuatnya 9.800 dan posisi pembukaan 9.805 per dolar AS,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Senin (10/6/2013).
Kurs rupiah  terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Senin (10/6/2013) ditutup melemah 10 poin (0,102%) ke 9.810/9.815 dari posisi akhir pekan lalu 9.800/9.810.
Selain itu, lanjut dia, sentimen eksternal cukup negatif bagi rupiah setelah Non-farm Payrolls AS yang dirilis Jumat pekan lalu meningkatkan ekspektasi atas pengurangan stimulus moneter The Fed dalam waktu dekat. "Non-farm payrolls AS dirilis naik ke 175 ribu atau lebih tinggi dari prediksi 167 ribu dan publikasi sebelumnya yang direvisi jadi 149 ribu," ujarnya.
Pada saat yang sama, lanjut Firman, data-data China juga cukup membebani sentimen. Sebab, serangkain data yang dirlis akhir pekan lalu cukup mengecewakan. "Memang surplus neraca perdagangan China meningkat dari US$18,6 miliar menjadi 20,4 miliar," timpal dia.
Hanya saja, lanjut Firman, kinerja ekspor dan impor China sangat mengecewakan. Ekspor China hanya naik 1% atau lebih rendah dari publikasi sebelumnya di level 14,7%. Begitu juga dengan kinerja impor yang minus 0,3% dari publikasi sebelumnya 16,8%. "Karena itu, secara umum sentimennya menjadi negatif bagi rupiah,
Alhasil, rupiah tak berkutik di tengah dolar AS yang menguat terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa). Indeks dolar AS menguat ke 81,86 dari sebelumnya 81,69. "Terhadap euro, dolar AS masih ditransaksikan menguat ke US$1,3215 dari sebelumnya US$1,3218 per euro,
Dari busa saham, Satrio Utomo, kepala riset PT Universal Broker Indonesia mengatakan, posisi running IHSG terakhir, sudah sekitar 1% dari posisi terendah IHSG. “Pelaku pasar terlihat mulai bottom fishing. Sementara itu, bursa regional memberikan sinyal bagus,
Pada perdagangan Senin (10/6/2013) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ) ditutup melemah 87,96 poin (1,81%) ke posisi 4.777,365. Intraday terendah 4.750,951 dan tertinggi 4.915,926. Investor asing masih mencatatkan net sell singnifikan hingga mencapai Rp1,23 triliun.
Namun demikian, Satrio menggarisbawahi, posisi net sell dari investor asing masih tetap besar hingga mencapai di atas Rp1 triliun. “Meski begitu, tetap saja tidak ada sinyal negatif yang baru,” ujar Satrio.
Pertanyaan Satrio masih tetap sama dengan tadi, memangnya Anda mau jual dalam kondisi market seperti ini. “Saya sih maunya beli. Hari ini saya menambah posisi. Tapi tetap saja, masih belum lewat 30% dari portofolio,
Satrio mengaku hanya mencoba beli ketika IHSG berada di level suport. Terutama, pada saham-saham yang masih berada di sekitar retracement 50% seperti properti, konstruksi, dan konsumsi.
Saham-daham di sektor-sektor itu, kata dia, terlihat banyak yang berada di sekitar retracement 50%. “Di sekitar retracement 61% malahan. Saya mencoba buy on weakness, bottom fishing,” imbuh Satrio.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Macys Printable Coupons