Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Senin (10/6/2013) diprediksi melemah. Pasar merespons serangkaian data ekonomi China dan AS.
Analis senior Monex Investindo Futures Daru Wibisono mengatakan, potensi pelemahan rupiah awal pekan ini karena pasar akan disuguhi oleh data-data dari dua negara adidaya yakni AS dan China. Rilis Non-farm Payroll AS dan rangkaian data fundamental ekonomi China.
Memang, kata Daru, pasar kemungkinan akan beragam menanggapinaya. Tapi, jika melihat angka-angkanya yang masih di level minus, bisa menjadi tekanan negatif bagi rupiah awal pekan ini. "Karena itu, untuk Senin (10/5/2013) rupiah cenderung melemah dan akan berada dalam kisaran 9.780 hingga 9.815 per dolar AS,” katanya kepada INILAH.COM.
Terutama, Daru menegaskan, tingkat ekspor-impor China yang mengalami penurunan. Ini menunjukkan lambatnya aktivitas di sektor manufaktur dan industri China. Pada saat yang sama, Consumer Price Index (CPI) China sudah diprediksi deflasi sehingga juga menjadi kekhawatiran pasar. "Semua itu, menjadi tekanan negatif bagi mata uang di kawasan Asia sehingga mendorong penguatan dolar AS dan otomatis jadi tekanan negatif bagi rupiah," ujarnya.
Melihat perkembangan ekonomi China yang melambat, lanjut dia, pasar akan mengurangi investasinya pada negara-negara dunia ketiga termasuk Indonesia. "Jika asing melepas posisi, artinya mereka juga menjual mata uang bersangkutan termasuk rupiah," timpal Daru.
Namun demikian, Daru berharap sentimen dari data-data penting China Sabtu-Minggu (8-9/6/2013) bisa saja memberikan sentimen positif. Data-data tersebut akan direspons pasar pada awal pekan ini. Sebba, untuk neraca perdagangan China ternyata dirilis melampau estimasi jadi US$20,4 miliar.
Padahal, sebelumnya sudah diprediksi hanya di level US$19,30 miliar atau lebih tinggi dari publikasi sebelumnya US$18,16 miliar.
Lalu, ekspor-impor di mana tingkat ekspor diprediksi naik 7,3% atau lebih rendah dari sebelumnya 14,7% sedangkan tingkat impor sudah diprediksi 6% atau lebih rendah dibandingkan publikasi sebelumnya 16,8%.
Begitu juga dengan Consumer Price Index (CPI) bulanan diprediksi anjlok jadi -0,2% dari publikasi sebelumnya 0,2%, Producer Price Index (PPI) masih -2,5% dari sebelumnya -2,6%, retails sales naik 12,9% dari 12,8%. Industrial output diprediksi stagnan di level 9,3%. "Data-data tersebut dirilis di akhir pekan karena Senin-Rabu ini merupakan hari libur nasional bagi China dan Hong Kong," ungkap dia.
Dalam sepekan ke depan, lebih jauh Daru memprediksi, rupiah masih akan berada dalam kisaran pelemahan. Sebab, selama rupiah berada di atas 9.750 per dolar AS, bisa dikatakan masih berada dalam teritori negatif.
Sebab, kata dia, selama 2013, level 9.750 sempat menjadi level terlemahnya yang terjadi pada 8 April dan rupiah sempat menguat hingga 9.660 per dolar AS. Setelah itu, rupiah berangsur melemah hingga ke atas 9.800. Artinya, rupiah melemah dan menembus ke atas level 9.750. "Angka ini menjadi titik krusial yang secara teknikal membawa rupiah berada antara 9.750 hingga 9.850 per dolar AS," imbuhnya.
Asal tahu saja, kurs rupiah terhadap dolar AS
Posted in: