Saham-saham bank pemerintah dinilai paling tidak menarik pascakenaikan BI rate dan harga BBM bersubsidi. Sebab, aset-asetnya menyusut seiring pelemahan rupiah dan obligasi negara.
Yuganur Wijanarko, Kepala Riset HD Capital mengatakan, kebanyakan aset bank pemerintah baik besar maupun kecil adalah government bond. Karena itu, aset bank-bank pemerintah rentan terdepresiasi oleh dua faktor: kenaikan suku bunga dan pelemahan rupiah. “Dilihat dari kenaikan BI rate, seharusnya saham-saham perbankan mengalami tekanan negatif dan saham-saham bank pemerintah yang paling tidak menarik,”
Pada perdagangan Kamis (27/6/2013) saham PT Bank Central Asia (BBCA) menguat Rp400 (4,46%) ke Rp9.350; PT Bank Mandiri (BMRI) naik Rp300 (3,63%) ke Rp8.550; PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) menanjak Rp250 (3,52%) ke Rp7.350; PT Bank Negara Indonesia (BBNI) terkerek naik Rp175 (4,34%) ke Rp4.200;
PT Bank Danamon (BDMN) naik Rp150 (2,70%) ke Rp5.700; PT Bank Jabar-Banten (BJBR) turun Rp10 (0,86%) ke Rp1.150; PT Bank Tabungan Negara (BBTN) melonjak Rp60 (5,94%) ke Rp1.070; PT Bank Tabungan Pensiun Negara (BTPN) menguat Rp50 (1,23%) ke Rp4.100; dan PT Bank Pan Indonesia (PNBN) naik Rp20 (2,73%) ke Rp750 per saham. Berikut ini wawancara lengkapnya:
Seiring penguatan IHSG, mayoritas saham-saham bank juga menguat kemarin. Bagaimana Anda melihat prospek saham-saham perbankan pascakenaikan BI rate ke 6%?
Seiring kenaikan BI rate, biasanya terjadi rebutan Dana Pihak Ketiga (DPK). Dari sisi ini yang menang ya bank besar terutama swasta, BCA.
Apa yang terjadi dengan bank-bank BUMN?
Kebanyakan bank pemerintah baik bank-bank besar maupun kecil, asetnya adalah government bond. Karena itu, aset-aset bank-bank pemerintah rentan terdepresiasi oleh dua faktor: kenaikan suku bunga dan pelemahan rupiah. Karena itu, jika rupiah melemah dan BI rate naik, otomatis aset mereka turun.
Aset BMRI dan BBNI, paling banyak dalam bentuk government bond. Karena aset mereka turun, mereka juga berburu cash dari DPK. Dari sisi ini, bank-bank kecil paling bahaya. Bank-bank kecil akan kalah dari sisi perebutan DPK. Sebab, mau tidak mau dia harus pasang bunga deposito lebih tinggi.
Jadi, bagaimana prospek saham-saham bank?
Dilihat dari kenaikan BI rate, seharusnya saham-saham perbankan mengalami tekanan negatif dan saham bank-bank pemerintah yang paling tidak menarik. Sebab, dengan kenaikan BI rate, rupiah justru melemah seiring The Fed yang berencana memangkas stimulus moneternya. Sebab, aset-aset bank pemerintah dalam denominasi rupiah antara pasar uang dan obligasi.
Anda menjagokan saham-saham bank swasta?
Dari sisi sahamnya, yang paling menarik adalah saham bank-bank swasta dan yang kapitilasisasi terbesarnya adalah BBCA. BBCA, saham yang paling menarik kalau saya lihat. Dalam kondisi terjadinya penurunan aset pada bank-bank pemerintah, pasar melihat saham bank swasta dengan mempertimbangkan aspek fundamentalnya.
Selain saham BBCA?
Untuk small caps, PNBN juga menarik dengan Price to Earnings Ratio (PER) murah di level 7 kali. Untuk saham bank besar, orang tidak melihat PER, tapi melihat nama dan jenis kredit. Dari sisi kredit, BBCA paling sehat. Meskipun, PER BBCA sudah mahal di level 20 kali.
Jadi semua bank pemerintah baik big caps maupun small caps seperti BJBR dan BTPN, juga punya eksposur besar pada obligasi negara. Nilai obligasi turun saat suku bunga naik.
Apa saran Anda untuk para pemodal?
Bagi saya, kalau BI Rate naik, jangan pegang dulu saham-saham bank. Kalau BI rate naik dan harga BBM naik, lebih baik ganti gerbong ke saham-saham yang berorientasi domestic demand seperti saham-saham infrastruktur terutama saham PT Adhi Karya (ADHI). Kalau memaksakan diri main saham-saham bank, pilih yang swasta. Sebab, aset-aset bank swasta tidak mungkin kebanyakan berisi government bond.
Bagaimana strategi untuk saham-saham bank swasta?
Saya rekomendasikan buy BBCA di level support Rp9.000 dan target jual di resistance Rp10.000, karena sekarang sudah di posisi resistance. PNBN, beli di level support Rp650 dan target jual di resistance Rp800. Menarik juga BDMN dengan support Rp5.100 dan resistance Rp6.000 dengan PER di level 13 kali atau setara dengan PER industri. Posisi PER industri perbankan di 13 kali masih mahal. Kalau sudah mendekati 10, bisa dikatakan murah. Memang, bank-bank swasta juga bukan berarti bebas dari ancaman koreksi, tapi bebas dari obligasi negara sehingga kalaupun turun akan cepat kembali naik.
Lantas, seberapa besar potensi penurunan pada saham-saham bank pemerintah?
Untuk bank-bank BUMN seperti, BBRI, BMRI, BBNI, BJBR, BBTN dan BTPN, bisa terkoreksi antara 7-10% dari harga sekarang. Sebab, saham-saham tersebut sangat rentan terhadap pelemahan rupiah. Rupiah sendiri rentan melemah ke 10.500 per dolar AS, pascapenaikan harga BBM. Jika harga BBM naik, BI rate juga kemungkinan dinaikkan lagi sehingga terus memukul saham-saham bank terutama bank BUMN. Hindari saja saham-saham bank pemerintah.
Jadi, masalahnya sekarang bukan suku bunga kredit. Tapi, penurunan aset karena isinya adalah obligasi negara yang rentan terhadap pelemahan rupiah dan kenaikan BI rate. Jika BI rate naik, nilai obligasinya turun. Jadi, ini sudah lepas dari suku bunga kredit ataupun suku bunga DPK.
Memang, bisa saja bunga pinjaman ke bank menjadi lebih mahal. Tapi, dari sisi ini tidak akan menolong banyak bagi bank. Asing berspekulasi jual saham bank hingga turun ke level tertentu. Sebab, asing menganggap, nilai obligasi pemerintah bisa di-depresiasi, sehingga value aset bank itu turun. Jadi, ini sudah lepas dari suku soal bunga. Ini soal aset bank yang turun.
Posted in: