Mengawali pekan, IHSG menutup perdagangan dengan kerontokan hingga 3,68%. Dua faktor yang jadi pemicunya dinilai aneh. Seperti apa?
Pada perdagangan Senin (8/7/2013) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG
) ditutup melemah 169,18 poin (3,68%) ke posisi 4.433,625. Intraday terendah 4.433,625 dan tertinggi 4.580,087. Investor asing mencatatkan net sell hingga Rp972,03 miliar.
Satrio Utomo, kepala riset PT Universal Broker Indonesia melihat dua keanehan pada penurunan IHSG. Keanehan pertama, ketika pasar AS mulai tidak takut dengan tapering (pengurangan stimulus moneter), malah bursa Asia turun gara-gara tapering. “Kalau masalah dana asing, hitungan saya, dana asing tinggal kurang dari Rp3 triliun sehingga tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” kata dia di Jakarta, Senin (8/7/2013).
Kalau hanya sentimen regional, Satrio mengaku tidak terlalu khawatir. “Hang Seng Index (HSI) masih ditutup di atas batas bawah dari gap 20.532. “HSI masih tutup di atas support. Dow Futures masih positif,” ujarnya.
Kedua, Satrio juga mengaku aneh dengan saham-saham lapis kedua-ketiga, terutama saham-saham di sektor properti dan konstruksi yang pemainnya lebih cenderung pemain lokal, yang berjatuhan. “Apakah ‘dana lokal besar’ yang tengah bermasalah saat ini sedang mengurangi posisi. Itu yang saya juga tidak tahu,” tuturnya. “Tapi yang saya lihat, tekanan jual asing hanya ringan, tapi lokalnya malah bingung sendiri.”
Satrio sendiri mengaku masih berpegang pada skenario inverted H&S. “Suport dari shoulder kanan, ada di 4.500. Atau setidaknya, selama IHSG masih di atas 4.400, kita anggep inverted H&S masih bisa,” papar dia.
Selain itu, kalau IHSG turun ke bawah 4.375, itu diangap sebagai double bottom juga bisa. “Tapi itu nanti, bukan sekarang,” ucapnya.
Karena masih berpegang pada skenario H&S, sore hari ini Satrio masih dalam mode belanja. “Setelah kemarin saya belanja sekitar 25%, hingga sore ini saya baru dapet kurang dari 5% baru nambah sedikit
Posted in: