Nasib Saham Pembiayaan di Tengah Ancaman BI Rate

Headline

Lambungan inflasi pascakenaikan harga BBM bersubsidi memicu ekspektasi kenaikan BI rate. Laba emiten mulfinance pun dikhawatirkan tergerus. Bagaimana nasib sahamnya?
Pada perdagangan Selasa (9/7/2013) saham PT Adira Dinamika Multi Finance (ADMF) turun Rp300 (3,61%) ke Rp8.000; PT Clipan Finance Indonesia (CFIN) turun Rp5 (1,23%) ke Rp400; PT Tifa Finance (TIFA) stagnan di Rp230; PT Mandala Multifinance (MFIN) bergeming di Rp700;
PT BFI Finance Indonesia (BFIN) stagnan di Rp2.050; PT Trust Finance Indonesia (TRUS) turun Rp5 (1,08%) ke Rp455; PT Wahana Ottomitra Multiarha (WOMF) turun Rp2 (1,02%) ke Rp194 dan PT HD Finance (HDFA) menguat Rp5 (2,08%) ke Rp245.
Yusuf Nugraha, analis riset Trust Securities mengatakan, pangsa pasar emiten sektor multifinance secara umum bergerak di sektor pembiayaan otomotif. “Dari sisi inflasi, sektor bisnis ini terancam oleh kenaikan BI rate seiring lambungan inflasi akibat kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi,
Menurut dia, emiten akan menyesuaikan dengan menaikan suku bunga kredit atau mempertahankannya. Multifinance akan mempertimbangkan itu untuk meng-cover kenaikan BI rate. “Apalagi, setelah BI menaikan suku bunga ke 6%, kemungkinan besar lonjakan inflasi akan terjadi Juli ini,
Dia memperkirakan, ada upaya dari BI untuk kembali menaikkan suku bunga acuannya . “Saya perkirakan, BI rate berpeluang naik ke 7% hingga akhir tahun untuk menekan inflasi yang diprediksi naik ke 8% dari 5,90% per Juni 2013
Hanya saja, dia menggarisbawahi, multifinance bisa saja tidak menaikkan suku bunga pembiayaannya karena akan memberatkan konsumen dan akan berbuah jadi kredit macet. Konsekuensinya, laba emiten akan tergerus. “Meskipun, untuk semester I-2013, belum akan berdampak banyak karena baru pada tahap penyesuaian pascakenaikan harga BBM,
Dari sisi Price to Earnings Ratio (PER), berdasarkan kinerja kuartal I-2013, ADMF berada di level 7,11 kali dari PER industri 19,64 kali. Yang paling mahal adalah HDFA di level 83,40 kali, karena pendapatannya kecil. “TIFA 7,86 kali, CFIN 4,63 kali, MFIN 7,86 kali, BFIN 7,33 kali, TRUS 10,76 kali, dan WOMF 13,06 kali,
Secara teknikal, lanjut Yusuf, kebanyakan saham-saham multifinane, bergerak datar dan tidak mengalami kenaikan yang cukup signifikan. “Dibandingkan perbankan, lebih menarik saham-saham bank yang trennya cenderung naik meski bank juga terpengaruh suku bunga
Di sektor multifinance, saham ADMF relatif stabil pergerakannya. Tren pergerakan harganya masih sideways (mendatar). Pasar belum mendukung kenaikan saham ini. “Dalam sepekan ke depan, ADMF masih datar dalam kisaran support di Rp8.000-8.100 hingga resistance Rp8.200-8.300. Saya rekomendasikan hold untuk ADMF,
Begitu juga dengan CFIN yang tren pergerakan jangka panjangnya masih sideways sejak 2012. Tapi untuk jangka pendek dari indikator paraboliknya cenderung turun dalam tiga hari ke depan dengan support di Rp380-390 dan resistance Rp420-450. “Hold saja untuk CFIN dengan harapan kenaikan pada Desember 2013,
Begitu juga dengan TIFA yang masih sideways jangka panjang. Dalam tiga hari ke depan, support TIFA di Rp230-240 dan resistance Rp245-250. Trading buy untuk TIFA untuk jangka pendek. “Sebab, jika tembus Rp250, TIFA punya tenaga penguatan ke level yang lebih tinggi karena indikator paraboliknya menunjukkan kenaikan,
Sementara itu, MFIN berada dalam tren turun jangka pendek. Untuk jangka pendek, saham ini tidak punya pola pergerakan teknikalnya. Tapi, bisa beli untuk jangka panjang karena ada potensi penguatan ke Rp800 dalam 1-2 bulan. “Sebab, tren jangka panjangnya naik sejak Februari,
BFIN, tren jangka pendeknya masih naik tapi tren jangka panjangnya cenderung sideways sejak 2012. Jangka pendek, tiga bulan trennya naik. Dalam tiga hari ke depan, target resistance BFIN Rp2.225-2.300. “Trading buy untuk BFIN,
Saham TRUS, tak mengalami pergerakan sama sekali sejak awal tahun sehingga tidak punya tren dan pola teknikalnya di level Rp460. “Hindari dulu untuk saham TRUS,
WOMF dinilai Yusuf cukup menarik. Sebab, tren jangka pendek dan jangka panjangnya sudah mulai naik sejak Maret 2013. “Support WOMF di Rp185-190 dan resistance Rp210-235. Jika tembus ke atas Rp235, target harga berikutnya Rp245-250 dalam 1 bulan. Trading buy WOMF,
HDFA sideways jangka panjang dalam kisaran Rp200-300. Trading buy untuk jangka pendek. “Untuk jangka panjang tidak menarik,

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Macys Printable Coupons