Minggu yang pertama pada bulan September 2013 ini telah berhasil kita lalui dengan sangat menggembirakan. Nilai aset bertumbuh dengan peningkatan yang cukup menyenangkan. Bersyukur sekali walaupun dalam keadaan IHSG yang cukup mengkhawatirkan, seperti perkiraan yang sudah dituliskan minggu kemarin di sini :
Dan pada hari ini akhirnya IHSG ditutup pada level 4,072. Sebuah titik kritis yang sangat penting. Karena sesuai prinsip relativitas, maka bila masih bertahan di atas 4,050, IHSG masih sangat berpeluang untuk kembali menguji resisten di level harga 4,259 untuk menutup gap yang tercipta pada tanggal 20 Agustus yang lalu.
Harap waspada apabila minggu depan, IHSG ditutup di bawah level 4,050 maka kemungkinan besar, IHSG akan menuju dan menguji support berikutnya di area harga 3,837. Dan apabila support tersebut juga berhasil tembus, maka level 3,600-an sudah menanti kita semua.

Sentimen pasar saat ini berada area netral. Karena secara global, ketegangan di Suriah akan menyebabkan harga minyak dunia naik tinggi. Yang tentu akan sangat berpengaruh pada APBN kita yang memerlukan penyesuaian cukup radikal. Selain itu masalah nilai tukar rupiah kita yang saat ini sedang dalam keadaan genting juga tidak luput dari perhatian investor. Juga masalah kenaikan upah buruh yang cukup signifikan, pasti akan sangat berdampak pada Operating Cost perusahaan dan kemudian harus diimbangi dengan kenaikan harga jual. Naiknya harga - harga di pasar juga kemudian akan berdampak pada angka inflasi. Beberapa sentimen negatif ini bisa cukup memberatkan langkah IHSG sepekan ke depan.
Tetapi disamping itu, ada pula sentimen positif yang menjadi harapan bagi para pelaku pasar modal. Seperti misalnya cadangan devisa kita untuk melakukan intervensi terhadap mata uang asing bertambah. Sehingga di Minggu depan, kita bisa berharap banyak bahwa nilai tukar rupiah kita memiliki potensi untuk menguat sedikit. Walaupun kita bisa saja berkelit, berapa lama kah cadangan devisa yang semakin sedikit itu untuk terus - terusan menggempur Sang Dollar.
Selain itu, di pekan depan juga akan ada peristiwa lahirnya anggota keluarga baru dari Group Lippo. Listing perdana SILO (Siloam Hospital) yang direncanakan pada tanggal 12 September ini cukup mendapat perhatian khusus dari para investor. Utamanya karena bisnis rumah sakit sedang sangat menarik luar biasa di Indonesia. Apalagi Siloam memiliki managemen bagus, jaringan usaha kuat, dan sudah memiliki brand name yang terjaga apik sekian lama ini. Karena itu maka Group ini tentunya akan mendapat sorotan cukup masif di pekan depan.
Kami akan coba menuliskan beberapa catatan kecil untuk pekan depan, sehingga Anda sekalian bisa ikut memperhitungkan rasionalitas setiap entry Anda. Mereka adalah :
Naiknya harga minyak dunia
- Perhatikan saham yang berkaitan dengan minyak ( MEDC, PTRO, SUGI, ENRG, dll)
- Harga minyak yang naik tinggi akan menyebabkan switching ke batu bara, sehingga konsumsi akan meningkat signifikan, otomatis harganya pun akan ikut naik. (PTBA, ITMG, ADRO, INDY, HRUM, dll)
Naiknya nilai tukar rupiah
- Banyak perusahaan besar yang sangat terhubung dengan mata uang asing, dan melemahnya rupiah membuat mereka menderita. Bangkitnya Rupiah tentu akan direspons dengan naiknya saham - saham perusahaan tersebut.
- Banking, Media, Teknologi dan Otomotif, akan cukup diuntungkan.
- Agribisnis justru akan sedikit banyak terhambat laju kenaikkannya.
Inflasi naik
- Saham konsumer yang berhubungan dengan kebutuhan pokok lebih banyak diburu karena sanggup bertahan di tengah krisis.
- Banking dan property tertekan.
Lahirnya SILO
- Cermati saham - saham Group Lippo yang lainnya seperti MLPL, MLPT, LPPF, LPPS, MPPA, dan lain - lainnya.
Khusus dalam masa sekarang ini, perhitungan fundamental analisis saja jadi kurang cukup solid sebagai alasan entry. Karena perhitungan fundamental seperti PER, PBV dan lain - lainnya berpatokan pada masa lalu. Sedangkan pada situasi dimana investor dihantui oleh berbagai ketakutan, maka yang dijadikan patokan justru masa depan. Karenanya maka perhitungan analisis fundamental yang hanya berpatokan masa lalu saja menjadi agak susah ketemunya. Anda akan terus - terusan merasa keliru ketika entry. Ini bisa terjadi karena semua investor besar memperhitungkan keadaan 1 - 5 tahun ke depan dan bukan sebaliknya.
Pergunakan nalar bisnis dan rasional secara kualitatif untuk memperkirakan keadaan di depan. Sehingga sedikit banyak kita masih bisa menyelami jalan pikiran (kesepahaman / common state of mind) dari investor lain, bahkan pemilik "big fund" itu. Dan trading jangka pendek cukup bijak diterapkan dalam situasi seperti sekarang ini. Tentunya dengan pengawalan stop loss yang ketat.
Demikian ulasan yang panjang X lebar X tinggi ini kami sampaikan. Maksudnya supaya kita semua bisa mendapatkan gambaran yang benar dan tidak semena - mena takut dan tidak mudah untuk bergembira. Apapun yang terjadi, ingatlah selalu pesan Ogalugi.... "IF YOU SEE PROFIT... BUY IT...!"
Posted in: