Minimnya isu positif yang berseliweran membuat indeks harga saham gabungan (IHSG) masih susah bergerak. Makanya, jangan terlalu berharap IHSG bisa terbang lebih tinggi. Terbukti, setelah kemarin melemah 0,46%, pada penutupan Selasa (24/9/2013) IHSG kembali melorot 99,33 poin (2,18%) ke level 4.463,52.
Ini terjadi karena investor terpengaruh oleh penurunan harga saham di pasar modal dunia, terutama Amerika. Tadi pagi, Dow Jones Index Average dan Nasdaq masing-masing ditutup melemah 0,32% dan 0,25%. Penurunan juga dialami indeks Hang Seng (0,82%), Kospi (0,11%), Nikkei (0,07%), san Straits Times (0,04%).
Meski dibayang-bayangi aksi ambil untung, pelaku pasar optimistis di hari-hari mendatang indeks akan menguat. Terutama didorong oleh sentimen positif global. Amerika, contohnya. Meski belum stabil, perekomian negara adi daya ini mulai menunjukan tren membaik. Apalagi The Fed urung memangkas dana stimulus melalui program Quantitative Easing (EQ) III.
Tak hanya Amerika, pemulihan ekonomi terjadi di China. Membaiknya Purchasing Manager Index (PMI) China ke level 51,2 pada September menunjukan perekonomian negeri panda itu mulai berdenyut. Tahun ini perekonomian China diperkirakan bakal tumbuh 7,5%.
Ekonomi negara-negara Uni Eropa (UE) juga mulai menggeliat. Indeks jasa yang dibuat Markit Economic menunjukan, sektor jasa sepanjang September menguat ke level 52,1 dari 50,7 di bulan Agustus. “Ini menjadi sinyal positif bagi ekonomi Eropa di kuartal III,” ujar Martin van Vliet, Ekonom ING Bank NV. Ekonomi Eropa diperkirakan bakal tumbuh 0,2% di kuartal III - 2013.
Dampak langsung membaiknya perekonomian dunia tentu akan dirasakan oleh para eksportir, terutama yang bergerak di bisnis komoditi seperti batu bara dan sawit. Itu sebabnya, kendati dua hari belakangan ini bursa melemah, para analis menyarankan investor memasang strategi trading. Saham-saham perkebunan dan pertambangan termasuk yang direkomendasikan beberapa analis.
Posted in: